Showing posts with label Games. Show all posts
Showing posts with label Games. Show all posts

Wanita (dan seksisme) dalam esports

Hi everyone what's up?

Hari ini lumayan melelahkan setelah Garena LGS minggu pertama. Demi production value dan suguhan yang lebih menghibur, kami tim LGS bekerja lebih keras dari sebelumnya. Walaupun saat eksekusi ada beberapa poin yang kurang, tapi kami akan belajar untuk meminimalkannya.

Shit happens - but it's normal.

Anyway di timeline Facebook gw baru-baru ini ada yang ramai, topiknya mengenai tim Esports wanita. Cukup menggelitik untuk dibahas, sehingga membuat gw kembali buka blog dan ngetik panjang lebar.

Di dalam industri yang didominasi lelaki, sosok wanita dalam Esports memiliki pro dan kontranya tersendiri. Tidak jarang kita menganggap kepandaian wanita dalam bermain game akan sulit menyamai laki-laki, sehingga hadirnya wanita seringkali dianggap sebagai pemanis saja. Tentu sebagai bentuk penolakan generalisasi anggapan tersebut, gw tidak menaruh 'semua' di depan kata 'wanita'.


Makin ramainya cewek-cewek yang nongol dan eksis sebagai gamer Esports sebenarnya sudah gw prediksikan sejak beberapa tahun yang lalu. (yeahehehe.) Tetapi itu bukan tanpa sebab, karena fenomena ini muncul berdasarkan hukum supply and demand - you want more girls in the scene, more girls come to the scene.

Satu argumen timbul menjawab trend yang sedang naik daun di scene lokal kita - "untuk apa kalian (para wanita) bikin tim tapi lebih banyak nge-femes (I would kindly suggest to rephrase it as 'brand exposure') daripada unjuk skill?"

Persepsi pribadi gw dari kalimat di atas adalah, "Kalau lu gak jago, ngapain sok eksis?" dan gw yakin gak cuma 1 orang saja yang punya pemikiran seperti ini.
Bahkan gw sendiri dulu juga pernah mikir, kalau gak jago emangnya bisa eksis ya?

Setelah gw pikir-pikir, gw pantau dan tinjau... ternyata memang bisa.
Kenapa ya?


Lagi-lagi gw bakal kasih kalimat jagoan gw yang juga sempat nongol di post gw sebelumnya..

"Esports is not just a competition - it's an ENTERTAINMENT INDUSTRY."

Ketika lu punya mimpi majuin Esports tapi lo gak mikir gimana caranya ngebungkus gaming kompetitif menjadi sebuah sajian yang menghibur dan fun, disitulah titik dimana lo bakal berhenti dan lo mungkin bakal mikir entah kenapa 'esports' yang lu pikirkan itu cuma di situ-situ aja..

Ah, balik lagi ke soal wanita dalam esports.. Heh, mungkin gak perlu waktu lama buat buka tab browser baru, ketik 'women in esports', lalu tekan Enter - ada banyaaaaaaak banget artikel yang ngebahas sosok wanita dalam Esports.
Semua punya garis besar yang sama bahwa Esports memang didominasi pria, dan memang ada kesulitan bagi wanita untuk menyetarakan posisi mereka dengan laki-laki.

Ketika ada sosok wanita muncul dan memposisikan diri mereka sebagai gamer, maka mayoritas impresi pertama yang muncul adalah fitur fisik (wajah & tubuh) yang mereka miliki. Girl gamer, good-looking.. sudah naluri dasar lelaki bahwa mereka ingin menghabiskan waktu dengan lawan jenis yang punya hobi sejenis. Apalagi kalau memang jago, dan bisa menyamai kemampuan rata-rata lelaki..

Supply and demand, folks - dunia gaming (dan Esports) yang dikuasai lelaki, membuat demand untuk sosok female gamer selalu ada. Inilah mengapa semakin hari semakin banyak yang mulai 'mencoba eksis' - because we (males) asked for it.

Mereka datang bukan karena ingin bersaing dengan laki-laki - mereka datang justru karena ingin membaur dengan laki-laki. To have fun with us. Together. To get her (kode banget gw)

And then sexism happened: "elu kan gak jago, modal nampang doang, tapi kok lu lebih terkenal daripada yang sering juara? Kok likers fanpage lu lebih banyak? Kok sponsornya lebih banyak?" dsb...

Seolah menyatakan bahwa, "Hey, kalau mau eksis di sini, samain dulu dong kemampuan gamingnya sama kita"


Gw jadi pengen cerita.. Jadi udah pada tau kan kalau di LGS kita ada host baru?

Tadi sore, setelah ia muncul di livestream sebagai interviewer, dia penasaran pengen baca-baca komentar viewer di chat. Gw sih mikir dia pasti kesel setelah baca chat yang nongol.. dan gw yakin semua cewe pun kesel kalau dikomentarin macem-macem mulai dari bentuk muka, ukuran dada sampai fantasi seksual even though she is just doing her job. Tapi untungnya dia nyantai dan mungkin udah punya pengalaman yang gak enak juga jadinya gak terlalu baper.

But that's fucked up. I think that was Indonesian gamers in a nutshell. Bad rep. Makanya gw juga gak mau sepenuhnya dukung gamer dalam isu 'Gamer vs Pemerintah'.. masih banyak attitude gamer yang gak layak buat didukung.

Karena gw lulusan SMA jadi gw gak mau bahas seksisme lebih dalam, dan menurut gw pribadi seksisme bakal terus menjadi isu yang susah dilerai dan diselesaikan.. So I'll skip this part.


Saatnya bermain kuis... Tahukah kamuuu? Bahwa yang membuat mereka para wanita terkenal itu adalah kita sendiri para laki-laki..
Yang pada akhirnya membuat argumen "Kalau lu gak jago, ngapain sok eksis?" menjadi aneh, karena yang membuat mereka eksis in the first place sebenarnya adalah like kita di foto mereka, komen kita di status mereka, dan share post mereka di linimasa kita.

Sponsor butuh brand exposure, dan mereka deliver exposure itu lebih baik dibanding laki-laki. Di era sosial media, jumlah like, retweet, engagement dan virality menjadi indikator suksesnya branding sebuah produk. Maka tidak heran para wanita lebih sukses sebagai brand ambassador sebuah produk atau jasa, karena kita pun menyukainya. (pun intented) (insert thumb emoticon here)

Tidak sedikit tim Esports laki-laki yang enggak komit untuk bekerjasama dengan sponsor.. Udah dikasih pinjem equipment (malah ada yang dikasih gaji) tapi gak mau bantu promosiin produk mereka. Ada jersey dengan logo sponsor, malah gak dipake pas turni. Bantuin share post dari fanpage sponsor mereka pun kalau misalkan disuruh aja. Kadang juga males interaksi sama fans..

Sampai sini harusnya jelas kan?

Sudah mengerti kenapa gw selalu tekankan bahwa ini adalah industri entertainment? Karena pada akhirnya, tujuan dari permainan video game ini adalah untuk menghibur..

Kalau kamu enggak terhibur sama kehadiran sosok wanita di dunia Esports, ya pilihannya antara kamu usir mereka secara halus, atau kamu harus terima kenyataan bahwa inilah hidup.
Welcome to real life.


Untuk berharap kemampuan gamer wanita bisa setara dengan laki-laki.. rasanya bakal sama nasibnya kayak sepakbola. Entah karena faktor fisik atau gimana tapi butuh waktu dan komitmen yang lebih sulit bagi wanita buat punya skill setara dengan laki-laki. Belom lagi urusan real life yang lebih penting.

Sekarang gw tanya, lu demen gak sama cewe yang jarang mandi, doyan begadang tapi mainnya jago (karena rajin main sampai begadang)?

To be honest with you gw sebenernya juga pernah punya mantan yang onlinenya malem sampe pagi, yaa buat gw ga masalah si tapi ya udahlah ya udah putus juga lagian


Back to topic, jadi cowok gamer aja di sini udah susah setengah mampus.. Mesti komitmen buat latihan, belum harus ngorbanin antara real life / social life / sleep time / money demi tetap kompetitif. Terus lu mau mengharapkan cewek juga bisa kaya gitu?

Suka gak suka, terimalah kenyataan. Peran wanita di esports scene lokal udah lebih dari cukup. Mereka membawa imej positif tentang gaming yang sampai saat ini masih menjadi polemik di negeri ini. Secara gak langsung itu bakal mempengaruhi ekosistem esports kita untuk lebih baik dalam jangka panjang. Gak perlu dipertanyakan terlebih dahulu sih harusnya.

Harusnya tuh disyukuri. Syukur syukur ada yang nempel sama kamu terus bisa sampai nikah. Rejeki jangan ditolak..


Regards,
Read More

Cara cari duit sebagai gamer

Banyak orang salah kaprah mengartikan 'pro' dalam kata 'pro gamer' sebagai 'jago', 'dewa', atau 'hebat'.

Memang sebenarnya gak salah jika kita menganggapnya sebagai julukan. Mengatakan seseorang sebagai pro gamer karena ia sering menang turnamen, tampil di headline media sebagai juara hingga banyak lawan jenis yang mencari cara supaya dinotice oleh senpai, tidak sepenuhnya salah dan dilarang.

Hanya saja, perlu diluruskan bahwa pro gamer - atau lebih lengkapnya professional gamer - bahwasanya adalah istilah untuk gamer yang sudah menjalani dan menekuni dunia gaming sebagai profesi, yang dalam artian ia dibayar untuk bermain game - kompetitif atau casual.

Untuk mencari uang atau pendapatan sebagai gamer sebenarnya tidak hanya dari hadiah turnamen saja.

Gw gak bosen-bosennya ngingetin bahwa Esports adalah industri hiburan (entertainment), sama seperti Formula 1, Premier League, bahkan Esports sebenarnya layak disetarakan dengan industri film dan musik.

Apakah Tom Cruise, Keanu Reeves, atau Megan Fox dapat penghasilan cuman dari hasil penjualan tiket film mereka di bioskop? Gak juga kan.

Pada umumnya mereka akan mendapatkan kontrak dengan nominal tertentu untuk menjadi aktor / aktris dalam satu proyek film. Ini yang menjadi nilai jual mereka - jika film yang mereka bintangi sukses di pasaran, 'harga diri' mereka tentunya akan lebih tinggi dan layak untuk diberikan kontrak dengan upah yang lebih tinggi juga.

Anyway balik lagi ke Esports. Selain dari hadiah turnamen, pendapatan paling sustainable untuk seorang gamer sebenarnya adalah kontrak.

Kontrak ini, sebenarnya hanyalah bentuk kesepakatan antara individu (gamer) dengan pihak kedua (tim, organisasi, brand) yang dituang di atas kertas dan ditandatangani oleh kedua belah pihak. Tidak ada aturan baku mengenai sebuah kontrak - seperti layaknya pacaran, suka sama suka, kontrak pun dibuat berdasarkan persetujuan kedua belah pihak. Itulah kenapa ada tanda tangan sebagai bukti setuju.

Contoh:
Gw mau dikontrak sama Tim A. Mereka bakal ngasih gw gaji 20 juta per bulan (amin), gaming house, PC dan equip untuk latihan. Tapi mereka minta gw untuk latihan di gaming house ini 7 hari seminggu, 15 jam sehari. Lalu minimal 1 bulan gw mesti juara 1 turnamen dengan prizepool di atas 10 juta rupiah, dan semua hadiah turnamen akan diambil oleh tim.
Ada juga yang nawarin gw kontrak tanpa gaji ataupun minim fasilitas - tapi 100% uang hadiah buat pemain dan pemain bebas batalin kontrak sesuka hati. Gw juga boleh terima kontrak dari sumber lain asalkan bukan dari tim lain dan gak mengganggu kegiatan yang gw jalani.

Pilihan pertama atau kedua sebenarnya tidak ada yang salah. Selama lo setuju dengan apa yang lo pilih, it's all yours. Tentunya kontrak ini harus dijadikan bukti profesionalitas dan komitmen. Remember, if you are a pro gamer, you should act professional. Jalani kewajiban sesuai kontrak, baru boleh minta macem-macem.


Konon orang ini pernah ditawari kontrak senilai 1 juta USD dari tim lain, namun ia tolak. Image source: http://bit.ly/1V7YjyU


Eh, emangnya ada kontrak lain selain dari tim atau organisasi gaming?

Ada dong. Kalau lo bener-bener jago sampai sering menang turnamen dan lama-lama terkenal, banyak bro cara lo buat cari duit.

Contohnya, dikontrak sama distributor gaming gear. Misalkan lo bakal dikasih gaming gear gratis tiap lo bikin video review tentang gaming gear itu, atau dibayar 1 juta tiap kali lo update status atau bikin post / tweet yang promosiin keunggulan gaming gear mereka. 

Yep, that's really how it works. Kalau lo bisa begitu, maka status lo sudah menjadi buzzer / influencer. Nilai branding lo cukup tinggi sehingga lo diberikan kepercayaan sebagai media untuk promosi. Seperti aktor atau aktris yang terkenal lewat film / sinetron, lalu menjadi bintang iklan sosis. Ya, gitu.

Tentunya kalo lo mau gitu, lo mesti perkuat presence lo sebagai pro gamer. Sekarang jaman digital marketing, tools yang paling gampang dan paling efektif buat lo gunakan adalah media sosial. Facebook fanpage, akun Twitter, Instagram, bahkan ask.fm pun bisa di-utilize sebagai sarana advertising. Kalo lo terkenal, orang bakal pengen follow kegiatan lo, jadi biasakanlah untuk mulai post kegiatan lo melalui fanpage dan berinteraksilah dengan follower lo.

Ada juga yang nawarin lo kontrak buat streaming di platform mereka. Asal lo tau, di Cina itu kontrak streaming gamer di Douyu, Huomao atau Longzhu itu nilainya bisa milyaran rupiah. Wakakakakakak.. Dan faktanya ada beberapa pro gamer yang lebih milih streaming aja daripada capek-capek turni lagi. Udah dapet duit dari platform streamingnya, bisa dapet bonus dari iklan ataupun donasi viewer. Mantap ye.

Kalau di Indonesia ada Siaranku, Hallostar, Cliponyu yang cara kerjanya mirip. Jadi kembali lagi ke cara lo branding. Kalo lo jago tapi dekil, banyak bacot, negative mental attitude, ya orang bakal males endorse lo. Jaman sosmed gini harus pinter manfaatin toolsnya bro.

The most successful female gamer in Indonesia. source: http://bit.ly/1ScH1ej
-----

Kalo lo jago, tentu harusnya banyak dong orang yang pengen belajar dari lo. Nah, kalo lo orang yang seneng ngajarin orang, saatnya jadi guru les.

Banyak pro player yang menawarkan jasa coaching dengan tarif yang beragam. Ada yang tarifnya per jam, ada yang per pertemuan, ada yang sepaket full diajarin sampai khatam. Tentu ya balik lagi tergantung kesepakatan kedua belah pihak. (biasanya kalau cewek yang minta diajarin sih gak perlu bayar :p)

Cara ngajarinnya juga beda-beda.. Ada yang nyuruh kita main pub game terus dia komentarin langsung, ada juga yang bakal liat replay kita lalu komentarin replay itu. Mungkin ada juga yang ngasih tutorial berbentuk audio, video atau teks. Intinya adalah ketika lo menggunakan jasa coaching, lo bakal dapet pengetahuan dan peningkatan gameplay yang lebih dibandingkan ketika lo harus belajar sendiri.

Cari duit bisa lewat jalan depan, bisa juga lewat jalan belakang. Kalau ngebahas jalan belakangnya, sebenarnya banyak juga caranya.. Seperti jasa Elo / MMR boosting, joki turnamen, atau manipulasi skor untuk betting (intentional throw). Gw gak bakal bahas lebih jauh soal ini. Do it at your own risk. Resikonya jelas bisa kena ban account bahkan di-ban dari competitive scene untuk jangka waktu yang tidak tentu (dan bisa seumur hidup).

-----

To sum up, cara cari duit sebagai pro gamer:

hadiah turnamen
kontrak tim
endorsement & sponsorship (produk / jasa)
coaching / mentoring
cara ilegal


Banyak ya? Sebenarnya masih banyak lagi cara cari duit sebagai gamer, namun bukan dari sisi pelaku utama. Misalkan jadi shoutcaster, masuk sebagai wartawan di portal berita, jualan voucher game, jadi ge em, dll... Masih banyaaaaaaaaaak lagi. Cuman kalo gw jabarin semua gw udah boleh bikin skripsi sendiri sih. (gw tamatan SMA btw)

Intinya adalah sekarang jaman digital, banyak tools yang tersedia dengan GRATIS, tinggal gimana kita memanfaatkannya dengan efektif untuk mencari modal nikah.

Pertanyaan? Ke ask.fm gw atau ke fanpage gw (baru bikin nih) juga boleh.
Cheers.

Read More

DON'T BE A PRO GAMER - IT'S HARD. REALLY HARD.


Gw nulis post ini pake bahasa Inggris karena.. gw lagi kepengen aja. Buat yang gak ngerti, bisa coba Google Translate atau tunggu versi bahasa Indonesianya nanti.


---


If you are around 14 to 25 right now, and you are dreaming of becoming a professional gamer, you are born in the right era.

Few days ago I read Kotakgame's article that how timely it is to become what people would not imagine decades ago: making a career by playing games.

Yes, it's true. What a time to be alive, right?

The problem is, almost everybody wants to be a pro gamer.

That isn't a bad thing, though. I think almost every gamer had thought that if they are really, really good, they can make a living out of it. That kind of thought is the one that started the Esports industry.

But if you noticed enough, the best gamers are the ones that really beat themselves over and over again, the ones that sacrificed a part or even the most important thing of their life - such as family, social life, youth time, relationship, etc. The ones who never give up and willing to try unlimited times.

Luck plays a part as well. For instance if you are really, really good but you are in a team where the rest are not trying hard as you do, it would arguably be harder for people to notice your efforts. Or maybe you just can't have the chance to shine because of things like family restrictions, poor wealth condition, physical limitations and so on.

The combination of raw talent, discipline, dedication, networking and luck makes them on the top.


I want to break the path of a professional gamer down into stages:

Stage 1.
You like playing the game, and you feel you are really good at it. You keep playing and develop a deeper understanding of the game.
Stage 2.
You compare yourself with other people, count how much you win or lose against the others. If you collect more wins, you are relatively better than the majority of players.
Stage 3.
You compete with the ones like you, who are better than average. See if you can win against them. If you want to pass this stage you might have to win some local / mini tournaments.
Stage 4.
Some fellow gamers might notice you as one of the better players in the game, and you keep competing at higher levels. This include national-scale competitions worth millions of Rupiahs at stake.
Stage 5.
Proceeded to be one of Indonesia's best, now you are competing in international tournaments as a representative of your country. People in lower stages want to be like you.
Stage 6.
Regional's best. Getting recognition and appreciation from people outside your nation, or even the government and mass media. 
Stage 7.
World's best. The celebrity of Esports. Finally you can show to the world that you can live as a pro gamer. It's a dream come true.

Some people might be stuck at a particular stage.. Well that's life in a nutshell. Either you try harder, or calling it quits.

To be fair, that's just how the world works. People who are more successful in life is far far less than the rest of population. Success is relative, though. But the ones who can make it from the bottom to top is not as common as people walking on the street. Everything matters if you want to climb up your rep.


Here is one thought if you really want to be a pro gamer - pro, as in professional, making a living from playing games:

If you are aiming to be eventually paid, or endorsed by someone to play and compete in gaming, then it is not a privilege just because not everyone can earn it - it is a responsibility, a fruit of trust you have to grow and keep it away from rotting.

When people pay you, or endorse you with their brand because you're pretty good at gaming, they put trust in you.
They believe that their investment in you will be paid off later, based on your achievements and progress.

Do not ever think that if you are paid from playing games, you don't need to train anymore because you have achieved something.
Do think that if you are paid from playing games, you have to keep improving to prove that you are worth their investment.

If you want another insight, do read Bekti's journal about becoming a pro gamer. It's in Bahasa Indonesia so you don't need to Google Translate anymore (hooray).


So maybe after reading this, you will start to decide if you are brave enough to try competitive gaming or give up.
It's not a bad idea to just ignore everything I've written on this post and go YOLO - you miss 100% of the shots you don't take.

But remember this: if you want to gain something, you have to lose something.
It's just like a physics theory of energy - you cannot create nor destroy it, but you can change or transfer it into another form.

As time goes on, you will learn things - maybe that everything cannot go according to plan even if it has been prepared properly, or that you realized it's not as easy as you've thought - it's completely normal. 


"The master has failed more times than the beginner has ever tried." - Stephen McCranie


Or maybe you decide not to be a pro gamer, but you still want to involve and contribute in developing the industry. Well the fact is, we really need more people like you here.

The state of Esports industry in Indonesia is relatively getting better in the past 10 years, but the growth is kind of slow compared to other countries.
I suspect it is because we have little innovation as people just want to imitate rather than research.
It might be because there are less human resources that work on another aspects of Esports such as production, journalism, or other applicable talents.
It might be because the majority of gamers want to be appreciated as the champion in front of the camera, rather than contributing behind it.

And I'm afraid, it might be because people still do not want to take Esports very seriously.

Esports is not just a competition. It's an entertainment industry.


It's not just about people playing games for money and fame, it's how we pack it into something that gives value, insight and entertainment to all people watching and following it.

I might talk about Esports 'behind the scene' sometime in the future, but I will stop for now.

Thank you for reading. I hope it brings an additional value for you :)
Read More

Now Playing: Guild Wars 2, Mercenary Ops

Hmm, akhirnya baru bisa update blog ini sekarang. Maklum kerjaan lagi banyak, dan abis kerja langsung online GW2 (heheheh).

Kenapa gua main GW2 sedangkan gua udah bilang sebelumnya kalo gua agak males main MMORPG lagi? Karena GW2 sistem questnya sangat menarik, no subscription fee (ibarat kata cuman beli ID-nya aja), sistem exp-nya gak kayak MMORPG lain (tabel exp tiap level sama!), jadi gua bisa main nyantai tanpa harus mikir target level per hari atau sebagainya. Pengen sih nyobain WvWvW (PvP antar server) tapi nanti dulu ajalah. Gua main di Darkhaven, silakan add aja gua di yota.2584.

Gua pengen bikin review komplit tentang game ini, tapi kayanya agak lama soalnya ada kerjaan lain yang harus diprioritasin dulu..



Terus yang kedua, Mercenary Ops.. Third-person shooter yang mekanismenya sangat mirip dengan Gears Of War. Yang bikin game ini adalah Yingpei Games, yang dulunya Epic Games China, jadi gua rasa mereka sempat terlibat dalam proyek development GOW dan mempelajari semuanya lalu membuat game sendiri.. entahlah, I don't know. Yang jelas, bisa dibilang ini adalah GOW untuk PC.

Baguskah? Grafis cukup bagus kok untuk game online (apalagi dalam skala game online lokal, Mops termasuk top-notch), menggunakan senjata-senjata yang ada di dunia nyata seperti M4A1, AK47, dsb (gak kayak GOW yang fiksi), mode PvP dan PvE (Mops sedikit condong ke PvE sih menurut gua, lebih variatif.. tapi PvP-nya cukup kompetitif kok). Kalo lu bosen main game online FPS atau TPS anime, coba yang ini aja. Heheheh.



Sekarang masih CBT sih dari tanggal 1 sampai 12, tapi tanggal 14 udah Open Beta.



Read More

Tentang 'Indie Game Bundle'

Langsung ke poin utamanya aja yah (lagi ngga tau gimana nulis paragraf pembukanya, heheheh). Indie game bundle adalah sebuah promo paket yang berisi sekumpulan (biasanya minimal 4) game-game buatan developer indie, dengan harga yang murah bahkan ada yang lu bisa tentuin sendiri (pay what you want)! Setelah lu bayar, lu bakal dapet CD-Key yang bisa lu aktifin melalui Steam, Desura, atau bahkan dikasih link downloadnya langsung.

Ada yang masih punya HIB V BTA gak? Gak sempet beli gua.. Nyesel..


Indie bundle ini diadakan oleh beberapa pihak yang bekerjasama dengan developer game-game indie, yang bertujuan untuk mempromosikan game buatan mereka. Gak cuman itu, terkadang mereka juga bekerjasama dengan badan amal seperti Child's Play Charity atau AbleGamers, sehingga uang yang kita pakai untuk membeli bundle tersebut dapat disisihkan untuk beramal. Singkatnya, mendukung developer indie sekaligus menyumbang amal.

Ada cukup banyak penyedia indie bundle, diantaranya Humble Indie Bundle, Indie Gala, Indie Royale, dan Groupees (selengkapnya dapat dilihat disini.) Masing-masing punya karakteristik sendiri tentang bagaimana mereka menjalankan bundle-nya, seperti Groupees yang juga memberikan bonus album musik dari artis-artis indie, atau Indie Royale yang memberikan hadiah spesial untuk para kontributor tertinggi. Terkadang mereka juga mengadakan bundle dengan tema tertentu, misalnya khusus album musik/soundtrack atau bundle berisi game-game Android yang juga dapat dimainkan di PC.

Indie bundle ini gak selalu ada setiap saat dan berisi game-game yang sama. Indie bundle biasanya diadakan selama 2 atau 3 minggu saja setiap beberapa waktu (biasanya 1~2 bulan), dengan 'tema' dan isi bundle yang berbeda pada tiap jangka waktu tersebut. Tadi sebelumnya gua udah bilang, kalo indie bundle ini bisa lu dapatkan dengan harga yang lu tentuin sendiri. Walau begitu, karena dulu sempat ada kejadian exploit, penyedia indie bundle kini membatasi harga minimum untuk membeli bundle, yaitu sebesar 1 dolar. Dan kita pun bisa atur sendiri, mau dikemanain duit yang kita kasih ke mereka: buat para developer, badan amal, atau buat biaya maintenance server mereka. Up to you.



Lalu ada istilah beat the average (BTA) - yaitu apabila kita membeli indie bundle dengan harga di atas rata-rata (ada juga yang sudah ditentukan), kita bakal dapet bonus tambahan yang udah ditentuin dari pihak penyedia bundle. Biasanya sih, dapet game tambahan sama exclusive artwork (MP3 soundtrack, dsb). Bonus untuk BTA ini kadang gak dikasih tau dulu sama mereka, supaya bikin penasaran. Tentunya ini terserah kita, mau beli yang BTA atau nggak. Terkadang ada yang bonus BTA-nya bagus, ada yang biasa aja.



Untuk pembeliannya sendiri, kita harus menggunakan Paypal atau kartu kredit. But don't worry.. Gua dan kawan-kawan gua bisa beliin kok kalo mau. Soalnya penyedia indie bundle juga nyediain pilihan buat ngasih bundle yang kita beli ke orang lain. Nantinya link bundle yang berisi CD-Key atau link download itu bakal masuk ke email orang yang akan menerima gift dari kita. Gampang kan?

Well mungkin itu aja sih penjelasan yang bisa gua kasih. Kalo masih ada yang kurang ngerti soal indie bundle, silakan tanya ke gua. Yang jelas, indie bundle ini bener-bener worthed kalo lu pengen coba-coba belajar pake game original. Walaupun game-game indie ini  bukan game yang bakal bikin lu kebelet pengen main layaknya game buatan developer gede, tapi mereka punya keunikan tersendiri. Analoginya gampang aja, mirip perbedaan antara musik major label sama indie. Yang indie emang kurang dikenal luas, tapi musiknya punya rasa dan keunikan tersendiri yang membuat mereka punya fans tersendiri. :)

Yang mau nanya macem-macem, silakan tanya di kolom comment aja.
Read More

Kenapa gua gak lanjut main TERA.

Gua udah nungguin TERA rilis sejak bertahun-tahun yang lalu. Dan saat Enmasse buka situs pendaftaran untuk closed beta TERA, gua langsung daftar gak pake lama. Begitu tau Enmasse blok IP Indonesia, gua pindah haluan ke Frogster, server EU.

Gua nungguin agak lama untuk dapet konfirmasi bahwa gua bisa join di closed beta. Sambil liat trailernya yang keren itu. Setelah berbagai kejadian dalam hidup gua, akhirnya gua dapet email dari.. Enmasse. Tentunya gak gua tanggepin karena udah tau soal IP block itu. Barulah beberapa waktu kemudian gua dapet yang dari Frogster. Sesi closed beta kelima akan dibuka dalam beberapa hari berikutnya.

Gua nitip download pake koneksi kantor, dengan ukuran client yang mencapai 35GB itu (jadi gua butuh 70GB, untuk download -> instalasi -> delete temp file). Kalo nggak salah butuh 2 malem (siangnya gua pause, karena pasti ngeganggu koneksi yang lain). Dan akhirnya gua bisa ikut ambil bagian sekaligus mencoba rasanya bermain TERA ini.



Wow. Gua harus mengakui bahwa game ini nearly perfect, dari visual ke gameplay. Dengan spek notebook gua yang menengah ke atas, game ini bisa dijalanin mulus dengan resolusi tinggi. Mekanisme action seperti Dragon Nest, namun lebih realis. Gua mainin terus char gua selama CBT yang cuman berlangsung beberapa hari itu, nyobain beberapa tipe class dan variasi tampilan untuk tiap ras.

Gua udah mikir kalo gua harus beli yang Collector's Edition. Sayangnya waktu itu lagi akhir bulan dan duit gua udah half-spent buat ngobatin galau urusan yang lain. Dan sambil mikir-mikir lagi, apakah dengan gua beli ini gua bakal main TERA terus. Lalu dari situ gua mikir, kalo gua main ini berarti gua harus menyisihkan waktu beberapa jam tiap malam biar subscription gua gak mubazir.



Dan berdasarkan pengalaman gua, sekalinya gua seriusin satu game MMORPG, semuanya bakal keteteran.. Dan mengingat gua udah punya pekerjaan tetap sekarang, gua pikir gua gak bakal bisa lagi main serius untuk game apa aja. Bahkan jika menyisihkan waktu sedikit buat main tiap hari, gua rasa sekalinya gua serius, gua bakal ketagihan. Itu bakal berbahaya buat gua sendiri. Oke, good bye TERA.

Bukan berarti karena TERA itu jelek, malah justru gua bilang ini game bener-bener unik. Keren. Wajib coba, pasti ketagihan. Tapi, gua ngga bisa bagi waktu gua buat grinding dan juga ngurusin kerjaan. Gua udah nyerah kalo seriusin main MMO sekarang. Diablo III, yang rame sekalipun, gua gak ada minat buat mainin. Guild Wars 2? Pengennya sih cuman 'liat-liat aja', sama kayak TERA ini.

Lalu karena gua jomblo, gua harus cari pacar, bukannya main MMORPG yang isinya hampir cowo semua. Kalo MMO casual sih okelah, seenggaknya ada lumayan banyak cewenya. Kecuali gua udah punya cewe, gamer, pasti gua ajakin main MMORPG bareng. Gua bayarin langganannya kalo perlu dah. Yang penting punya..


Read More

Now Playing: MechWarrior Online

Setelah beberapa lama menunggu beta invitationnya, akhirnya gua dapet email untuk mengikuti closed beta test MechWarrior Online. Mungkin udah ada yang pernah denger atau main game 'MechWarrior'? Yup, ini adalah versi online dari game tersebut. 1 dekade lebih setelah versi terakhirnya rilis (MechWarrior 4), kali ini Piranha Games bekerjasama dengan Jordan Weisman, founder dari proyek MechWarrior untuk membuat game ini.

Gua bukan fan MechWarrior sejak dulu. Gua cuman pernah denger aja, jadi gua bener-bener awam tentang istilah-istilah yang digunakan di MWO. Game ini bertipe FPS, namun kita akan mengendalikan sebuah mech, robot humanoid berskala besar, dengan kontrol seperti tank di seri Battlefield. Dan kerennya, kita bakal ngendaliin mech ini dari sudut pandang kokpit, yang membuat MWO ini seperti sebuah simulator robot perang.



Mech di MWO dibagi dalam 4 kategori - light, medium, heavy dan assault class. Sesuai namanya, tipe light adalah mech yang terkecil, dengan armor tipis dan senjata laser standar. Namun kecepatan dan kelincahannya membuat tipe light dapat leluasa mengitari area perang. Sedangkan tipe assault dapat mengangkut senjata yang lebih berat serta mempunyai armor yang tebal, namun pergerakannya sangat lambat.

Tiap mech punya kapasitas payload yang berbeda-beda. Mech kepunyaan kita dapat kita customize  sesuka hati, asalkan tidak melebihi kapasitas maksimum. Kapasitas armor mech kita juga dihitung sebagai berat, jadi kita dapat mengurangi armor kita untuk dapat menambah kapasitas senjata/part lain, atau sebaliknya. Itu bakal bikin kita mikir, harus diapain mech ini supaya cocok sama tuntutan peran dari tipe mech kita, serta gaya bermain kita.


Satu lagi, kita juga gak bisa nembak senjata sesuka hati. Ada cooldown tertentu untuk tiap senjata, lalu ada juga heat. Setiap kita menembak, senjata kita akan mengeluarkan panas, dan tiap mech punya kapasitas menahan panasnya masing-masing. Ketika overheat, mech kita akan shutdown dan tidak dapat bergerak untuk beberapa detik. Rada pusing juga ya? Tapi kita juga bisa mengatur heat management ini dengan menambah part heatsink yang ada di mech kita, yang juga bergantung pada kapasitas payload mech kita.
Jadi ya mesti tambah mikir lagi: mau senjata bagus dan armor tebel, tapi cepet panas, atau dibolak-balik?

Gua baru main MWO beberapa hari terakhir ini, jadi cuman bisa kasih info seadanya. Mungkin juga ada beberapa hal di atas yang masih ada salahnya, tapi kira-kira seperti itu sih gambaran mengenai mekanisme dari game ini. Overall, gua cukup suka dengan tipe permainan yang MWO tawarkan, sambil nunggu Hawken rilis. (dan kayaknya kedua game ini bakal saling bersaing memperebutkan massa.)

Read More
Powered by Blogger.