Showing posts with label Thoughts. Show all posts
Showing posts with label Thoughts. Show all posts

Wanita (dan seksisme) dalam esports

Hi everyone what's up?

Hari ini lumayan melelahkan setelah Garena LGS minggu pertama. Demi production value dan suguhan yang lebih menghibur, kami tim LGS bekerja lebih keras dari sebelumnya. Walaupun saat eksekusi ada beberapa poin yang kurang, tapi kami akan belajar untuk meminimalkannya.

Shit happens - but it's normal.

Anyway di timeline Facebook gw baru-baru ini ada yang ramai, topiknya mengenai tim Esports wanita. Cukup menggelitik untuk dibahas, sehingga membuat gw kembali buka blog dan ngetik panjang lebar.

Di dalam industri yang didominasi lelaki, sosok wanita dalam Esports memiliki pro dan kontranya tersendiri. Tidak jarang kita menganggap kepandaian wanita dalam bermain game akan sulit menyamai laki-laki, sehingga hadirnya wanita seringkali dianggap sebagai pemanis saja. Tentu sebagai bentuk penolakan generalisasi anggapan tersebut, gw tidak menaruh 'semua' di depan kata 'wanita'.


Makin ramainya cewek-cewek yang nongol dan eksis sebagai gamer Esports sebenarnya sudah gw prediksikan sejak beberapa tahun yang lalu. (yeahehehe.) Tetapi itu bukan tanpa sebab, karena fenomena ini muncul berdasarkan hukum supply and demand - you want more girls in the scene, more girls come to the scene.

Satu argumen timbul menjawab trend yang sedang naik daun di scene lokal kita - "untuk apa kalian (para wanita) bikin tim tapi lebih banyak nge-femes (I would kindly suggest to rephrase it as 'brand exposure') daripada unjuk skill?"

Persepsi pribadi gw dari kalimat di atas adalah, "Kalau lu gak jago, ngapain sok eksis?" dan gw yakin gak cuma 1 orang saja yang punya pemikiran seperti ini.
Bahkan gw sendiri dulu juga pernah mikir, kalau gak jago emangnya bisa eksis ya?

Setelah gw pikir-pikir, gw pantau dan tinjau... ternyata memang bisa.
Kenapa ya?


Lagi-lagi gw bakal kasih kalimat jagoan gw yang juga sempat nongol di post gw sebelumnya..

"Esports is not just a competition - it's an ENTERTAINMENT INDUSTRY."

Ketika lu punya mimpi majuin Esports tapi lo gak mikir gimana caranya ngebungkus gaming kompetitif menjadi sebuah sajian yang menghibur dan fun, disitulah titik dimana lo bakal berhenti dan lo mungkin bakal mikir entah kenapa 'esports' yang lu pikirkan itu cuma di situ-situ aja..

Ah, balik lagi ke soal wanita dalam esports.. Heh, mungkin gak perlu waktu lama buat buka tab browser baru, ketik 'women in esports', lalu tekan Enter - ada banyaaaaaaak banget artikel yang ngebahas sosok wanita dalam Esports.
Semua punya garis besar yang sama bahwa Esports memang didominasi pria, dan memang ada kesulitan bagi wanita untuk menyetarakan posisi mereka dengan laki-laki.

Ketika ada sosok wanita muncul dan memposisikan diri mereka sebagai gamer, maka mayoritas impresi pertama yang muncul adalah fitur fisik (wajah & tubuh) yang mereka miliki. Girl gamer, good-looking.. sudah naluri dasar lelaki bahwa mereka ingin menghabiskan waktu dengan lawan jenis yang punya hobi sejenis. Apalagi kalau memang jago, dan bisa menyamai kemampuan rata-rata lelaki..

Supply and demand, folks - dunia gaming (dan Esports) yang dikuasai lelaki, membuat demand untuk sosok female gamer selalu ada. Inilah mengapa semakin hari semakin banyak yang mulai 'mencoba eksis' - because we (males) asked for it.

Mereka datang bukan karena ingin bersaing dengan laki-laki - mereka datang justru karena ingin membaur dengan laki-laki. To have fun with us. Together. To get her (kode banget gw)

And then sexism happened: "elu kan gak jago, modal nampang doang, tapi kok lu lebih terkenal daripada yang sering juara? Kok likers fanpage lu lebih banyak? Kok sponsornya lebih banyak?" dsb...

Seolah menyatakan bahwa, "Hey, kalau mau eksis di sini, samain dulu dong kemampuan gamingnya sama kita"


Gw jadi pengen cerita.. Jadi udah pada tau kan kalau di LGS kita ada host baru?

Tadi sore, setelah ia muncul di livestream sebagai interviewer, dia penasaran pengen baca-baca komentar viewer di chat. Gw sih mikir dia pasti kesel setelah baca chat yang nongol.. dan gw yakin semua cewe pun kesel kalau dikomentarin macem-macem mulai dari bentuk muka, ukuran dada sampai fantasi seksual even though she is just doing her job. Tapi untungnya dia nyantai dan mungkin udah punya pengalaman yang gak enak juga jadinya gak terlalu baper.

But that's fucked up. I think that was Indonesian gamers in a nutshell. Bad rep. Makanya gw juga gak mau sepenuhnya dukung gamer dalam isu 'Gamer vs Pemerintah'.. masih banyak attitude gamer yang gak layak buat didukung.

Karena gw lulusan SMA jadi gw gak mau bahas seksisme lebih dalam, dan menurut gw pribadi seksisme bakal terus menjadi isu yang susah dilerai dan diselesaikan.. So I'll skip this part.


Saatnya bermain kuis... Tahukah kamuuu? Bahwa yang membuat mereka para wanita terkenal itu adalah kita sendiri para laki-laki..
Yang pada akhirnya membuat argumen "Kalau lu gak jago, ngapain sok eksis?" menjadi aneh, karena yang membuat mereka eksis in the first place sebenarnya adalah like kita di foto mereka, komen kita di status mereka, dan share post mereka di linimasa kita.

Sponsor butuh brand exposure, dan mereka deliver exposure itu lebih baik dibanding laki-laki. Di era sosial media, jumlah like, retweet, engagement dan virality menjadi indikator suksesnya branding sebuah produk. Maka tidak heran para wanita lebih sukses sebagai brand ambassador sebuah produk atau jasa, karena kita pun menyukainya. (pun intented) (insert thumb emoticon here)

Tidak sedikit tim Esports laki-laki yang enggak komit untuk bekerjasama dengan sponsor.. Udah dikasih pinjem equipment (malah ada yang dikasih gaji) tapi gak mau bantu promosiin produk mereka. Ada jersey dengan logo sponsor, malah gak dipake pas turni. Bantuin share post dari fanpage sponsor mereka pun kalau misalkan disuruh aja. Kadang juga males interaksi sama fans..

Sampai sini harusnya jelas kan?

Sudah mengerti kenapa gw selalu tekankan bahwa ini adalah industri entertainment? Karena pada akhirnya, tujuan dari permainan video game ini adalah untuk menghibur..

Kalau kamu enggak terhibur sama kehadiran sosok wanita di dunia Esports, ya pilihannya antara kamu usir mereka secara halus, atau kamu harus terima kenyataan bahwa inilah hidup.
Welcome to real life.


Untuk berharap kemampuan gamer wanita bisa setara dengan laki-laki.. rasanya bakal sama nasibnya kayak sepakbola. Entah karena faktor fisik atau gimana tapi butuh waktu dan komitmen yang lebih sulit bagi wanita buat punya skill setara dengan laki-laki. Belom lagi urusan real life yang lebih penting.

Sekarang gw tanya, lu demen gak sama cewe yang jarang mandi, doyan begadang tapi mainnya jago (karena rajin main sampai begadang)?

To be honest with you gw sebenernya juga pernah punya mantan yang onlinenya malem sampe pagi, yaa buat gw ga masalah si tapi ya udahlah ya udah putus juga lagian


Back to topic, jadi cowok gamer aja di sini udah susah setengah mampus.. Mesti komitmen buat latihan, belum harus ngorbanin antara real life / social life / sleep time / money demi tetap kompetitif. Terus lu mau mengharapkan cewek juga bisa kaya gitu?

Suka gak suka, terimalah kenyataan. Peran wanita di esports scene lokal udah lebih dari cukup. Mereka membawa imej positif tentang gaming yang sampai saat ini masih menjadi polemik di negeri ini. Secara gak langsung itu bakal mempengaruhi ekosistem esports kita untuk lebih baik dalam jangka panjang. Gak perlu dipertanyakan terlebih dahulu sih harusnya.

Harusnya tuh disyukuri. Syukur syukur ada yang nempel sama kamu terus bisa sampai nikah. Rejeki jangan ditolak..


Regards,
Read More

Cara cari duit sebagai gamer

Banyak orang salah kaprah mengartikan 'pro' dalam kata 'pro gamer' sebagai 'jago', 'dewa', atau 'hebat'.

Memang sebenarnya gak salah jika kita menganggapnya sebagai julukan. Mengatakan seseorang sebagai pro gamer karena ia sering menang turnamen, tampil di headline media sebagai juara hingga banyak lawan jenis yang mencari cara supaya dinotice oleh senpai, tidak sepenuhnya salah dan dilarang.

Hanya saja, perlu diluruskan bahwa pro gamer - atau lebih lengkapnya professional gamer - bahwasanya adalah istilah untuk gamer yang sudah menjalani dan menekuni dunia gaming sebagai profesi, yang dalam artian ia dibayar untuk bermain game - kompetitif atau casual.

Untuk mencari uang atau pendapatan sebagai gamer sebenarnya tidak hanya dari hadiah turnamen saja.

Gw gak bosen-bosennya ngingetin bahwa Esports adalah industri hiburan (entertainment), sama seperti Formula 1, Premier League, bahkan Esports sebenarnya layak disetarakan dengan industri film dan musik.

Apakah Tom Cruise, Keanu Reeves, atau Megan Fox dapat penghasilan cuman dari hasil penjualan tiket film mereka di bioskop? Gak juga kan.

Pada umumnya mereka akan mendapatkan kontrak dengan nominal tertentu untuk menjadi aktor / aktris dalam satu proyek film. Ini yang menjadi nilai jual mereka - jika film yang mereka bintangi sukses di pasaran, 'harga diri' mereka tentunya akan lebih tinggi dan layak untuk diberikan kontrak dengan upah yang lebih tinggi juga.

Anyway balik lagi ke Esports. Selain dari hadiah turnamen, pendapatan paling sustainable untuk seorang gamer sebenarnya adalah kontrak.

Kontrak ini, sebenarnya hanyalah bentuk kesepakatan antara individu (gamer) dengan pihak kedua (tim, organisasi, brand) yang dituang di atas kertas dan ditandatangani oleh kedua belah pihak. Tidak ada aturan baku mengenai sebuah kontrak - seperti layaknya pacaran, suka sama suka, kontrak pun dibuat berdasarkan persetujuan kedua belah pihak. Itulah kenapa ada tanda tangan sebagai bukti setuju.

Contoh:
Gw mau dikontrak sama Tim A. Mereka bakal ngasih gw gaji 20 juta per bulan (amin), gaming house, PC dan equip untuk latihan. Tapi mereka minta gw untuk latihan di gaming house ini 7 hari seminggu, 15 jam sehari. Lalu minimal 1 bulan gw mesti juara 1 turnamen dengan prizepool di atas 10 juta rupiah, dan semua hadiah turnamen akan diambil oleh tim.
Ada juga yang nawarin gw kontrak tanpa gaji ataupun minim fasilitas - tapi 100% uang hadiah buat pemain dan pemain bebas batalin kontrak sesuka hati. Gw juga boleh terima kontrak dari sumber lain asalkan bukan dari tim lain dan gak mengganggu kegiatan yang gw jalani.

Pilihan pertama atau kedua sebenarnya tidak ada yang salah. Selama lo setuju dengan apa yang lo pilih, it's all yours. Tentunya kontrak ini harus dijadikan bukti profesionalitas dan komitmen. Remember, if you are a pro gamer, you should act professional. Jalani kewajiban sesuai kontrak, baru boleh minta macem-macem.


Konon orang ini pernah ditawari kontrak senilai 1 juta USD dari tim lain, namun ia tolak. Image source: http://bit.ly/1V7YjyU


Eh, emangnya ada kontrak lain selain dari tim atau organisasi gaming?

Ada dong. Kalau lo bener-bener jago sampai sering menang turnamen dan lama-lama terkenal, banyak bro cara lo buat cari duit.

Contohnya, dikontrak sama distributor gaming gear. Misalkan lo bakal dikasih gaming gear gratis tiap lo bikin video review tentang gaming gear itu, atau dibayar 1 juta tiap kali lo update status atau bikin post / tweet yang promosiin keunggulan gaming gear mereka. 

Yep, that's really how it works. Kalau lo bisa begitu, maka status lo sudah menjadi buzzer / influencer. Nilai branding lo cukup tinggi sehingga lo diberikan kepercayaan sebagai media untuk promosi. Seperti aktor atau aktris yang terkenal lewat film / sinetron, lalu menjadi bintang iklan sosis. Ya, gitu.

Tentunya kalo lo mau gitu, lo mesti perkuat presence lo sebagai pro gamer. Sekarang jaman digital marketing, tools yang paling gampang dan paling efektif buat lo gunakan adalah media sosial. Facebook fanpage, akun Twitter, Instagram, bahkan ask.fm pun bisa di-utilize sebagai sarana advertising. Kalo lo terkenal, orang bakal pengen follow kegiatan lo, jadi biasakanlah untuk mulai post kegiatan lo melalui fanpage dan berinteraksilah dengan follower lo.

Ada juga yang nawarin lo kontrak buat streaming di platform mereka. Asal lo tau, di Cina itu kontrak streaming gamer di Douyu, Huomao atau Longzhu itu nilainya bisa milyaran rupiah. Wakakakakakak.. Dan faktanya ada beberapa pro gamer yang lebih milih streaming aja daripada capek-capek turni lagi. Udah dapet duit dari platform streamingnya, bisa dapet bonus dari iklan ataupun donasi viewer. Mantap ye.

Kalau di Indonesia ada Siaranku, Hallostar, Cliponyu yang cara kerjanya mirip. Jadi kembali lagi ke cara lo branding. Kalo lo jago tapi dekil, banyak bacot, negative mental attitude, ya orang bakal males endorse lo. Jaman sosmed gini harus pinter manfaatin toolsnya bro.

The most successful female gamer in Indonesia. source: http://bit.ly/1ScH1ej
-----

Kalo lo jago, tentu harusnya banyak dong orang yang pengen belajar dari lo. Nah, kalo lo orang yang seneng ngajarin orang, saatnya jadi guru les.

Banyak pro player yang menawarkan jasa coaching dengan tarif yang beragam. Ada yang tarifnya per jam, ada yang per pertemuan, ada yang sepaket full diajarin sampai khatam. Tentu ya balik lagi tergantung kesepakatan kedua belah pihak. (biasanya kalau cewek yang minta diajarin sih gak perlu bayar :p)

Cara ngajarinnya juga beda-beda.. Ada yang nyuruh kita main pub game terus dia komentarin langsung, ada juga yang bakal liat replay kita lalu komentarin replay itu. Mungkin ada juga yang ngasih tutorial berbentuk audio, video atau teks. Intinya adalah ketika lo menggunakan jasa coaching, lo bakal dapet pengetahuan dan peningkatan gameplay yang lebih dibandingkan ketika lo harus belajar sendiri.

Cari duit bisa lewat jalan depan, bisa juga lewat jalan belakang. Kalau ngebahas jalan belakangnya, sebenarnya banyak juga caranya.. Seperti jasa Elo / MMR boosting, joki turnamen, atau manipulasi skor untuk betting (intentional throw). Gw gak bakal bahas lebih jauh soal ini. Do it at your own risk. Resikonya jelas bisa kena ban account bahkan di-ban dari competitive scene untuk jangka waktu yang tidak tentu (dan bisa seumur hidup).

-----

To sum up, cara cari duit sebagai pro gamer:

hadiah turnamen
kontrak tim
endorsement & sponsorship (produk / jasa)
coaching / mentoring
cara ilegal


Banyak ya? Sebenarnya masih banyak lagi cara cari duit sebagai gamer, namun bukan dari sisi pelaku utama. Misalkan jadi shoutcaster, masuk sebagai wartawan di portal berita, jualan voucher game, jadi ge em, dll... Masih banyaaaaaaaaaak lagi. Cuman kalo gw jabarin semua gw udah boleh bikin skripsi sendiri sih. (gw tamatan SMA btw)

Intinya adalah sekarang jaman digital, banyak tools yang tersedia dengan GRATIS, tinggal gimana kita memanfaatkannya dengan efektif untuk mencari modal nikah.

Pertanyaan? Ke ask.fm gw atau ke fanpage gw (baru bikin nih) juga boleh.
Cheers.

Read More

DON'T BE A PRO GAMER - IT'S HARD. REALLY HARD.


Gw nulis post ini pake bahasa Inggris karena.. gw lagi kepengen aja. Buat yang gak ngerti, bisa coba Google Translate atau tunggu versi bahasa Indonesianya nanti.


---


If you are around 14 to 25 right now, and you are dreaming of becoming a professional gamer, you are born in the right era.

Few days ago I read Kotakgame's article that how timely it is to become what people would not imagine decades ago: making a career by playing games.

Yes, it's true. What a time to be alive, right?

The problem is, almost everybody wants to be a pro gamer.

That isn't a bad thing, though. I think almost every gamer had thought that if they are really, really good, they can make a living out of it. That kind of thought is the one that started the Esports industry.

But if you noticed enough, the best gamers are the ones that really beat themselves over and over again, the ones that sacrificed a part or even the most important thing of their life - such as family, social life, youth time, relationship, etc. The ones who never give up and willing to try unlimited times.

Luck plays a part as well. For instance if you are really, really good but you are in a team where the rest are not trying hard as you do, it would arguably be harder for people to notice your efforts. Or maybe you just can't have the chance to shine because of things like family restrictions, poor wealth condition, physical limitations and so on.

The combination of raw talent, discipline, dedication, networking and luck makes them on the top.


I want to break the path of a professional gamer down into stages:

Stage 1.
You like playing the game, and you feel you are really good at it. You keep playing and develop a deeper understanding of the game.
Stage 2.
You compare yourself with other people, count how much you win or lose against the others. If you collect more wins, you are relatively better than the majority of players.
Stage 3.
You compete with the ones like you, who are better than average. See if you can win against them. If you want to pass this stage you might have to win some local / mini tournaments.
Stage 4.
Some fellow gamers might notice you as one of the better players in the game, and you keep competing at higher levels. This include national-scale competitions worth millions of Rupiahs at stake.
Stage 5.
Proceeded to be one of Indonesia's best, now you are competing in international tournaments as a representative of your country. People in lower stages want to be like you.
Stage 6.
Regional's best. Getting recognition and appreciation from people outside your nation, or even the government and mass media. 
Stage 7.
World's best. The celebrity of Esports. Finally you can show to the world that you can live as a pro gamer. It's a dream come true.

Some people might be stuck at a particular stage.. Well that's life in a nutshell. Either you try harder, or calling it quits.

To be fair, that's just how the world works. People who are more successful in life is far far less than the rest of population. Success is relative, though. But the ones who can make it from the bottom to top is not as common as people walking on the street. Everything matters if you want to climb up your rep.


Here is one thought if you really want to be a pro gamer - pro, as in professional, making a living from playing games:

If you are aiming to be eventually paid, or endorsed by someone to play and compete in gaming, then it is not a privilege just because not everyone can earn it - it is a responsibility, a fruit of trust you have to grow and keep it away from rotting.

When people pay you, or endorse you with their brand because you're pretty good at gaming, they put trust in you.
They believe that their investment in you will be paid off later, based on your achievements and progress.

Do not ever think that if you are paid from playing games, you don't need to train anymore because you have achieved something.
Do think that if you are paid from playing games, you have to keep improving to prove that you are worth their investment.

If you want another insight, do read Bekti's journal about becoming a pro gamer. It's in Bahasa Indonesia so you don't need to Google Translate anymore (hooray).


So maybe after reading this, you will start to decide if you are brave enough to try competitive gaming or give up.
It's not a bad idea to just ignore everything I've written on this post and go YOLO - you miss 100% of the shots you don't take.

But remember this: if you want to gain something, you have to lose something.
It's just like a physics theory of energy - you cannot create nor destroy it, but you can change or transfer it into another form.

As time goes on, you will learn things - maybe that everything cannot go according to plan even if it has been prepared properly, or that you realized it's not as easy as you've thought - it's completely normal. 


"The master has failed more times than the beginner has ever tried." - Stephen McCranie


Or maybe you decide not to be a pro gamer, but you still want to involve and contribute in developing the industry. Well the fact is, we really need more people like you here.

The state of Esports industry in Indonesia is relatively getting better in the past 10 years, but the growth is kind of slow compared to other countries.
I suspect it is because we have little innovation as people just want to imitate rather than research.
It might be because there are less human resources that work on another aspects of Esports such as production, journalism, or other applicable talents.
It might be because the majority of gamers want to be appreciated as the champion in front of the camera, rather than contributing behind it.

And I'm afraid, it might be because people still do not want to take Esports very seriously.

Esports is not just a competition. It's an entertainment industry.


It's not just about people playing games for money and fame, it's how we pack it into something that gives value, insight and entertainment to all people watching and following it.

I might talk about Esports 'behind the scene' sometime in the future, but I will stop for now.

Thank you for reading. I hope it brings an additional value for you :)
Read More

My personal review for 2014 & wishes for 2015.


Setelah satu tahun dengan berbagai suka-dukanya, kali ini gw akan coba untuk merangkum 2014 dalam konteks perkembangan industri competitive gaming ('e-sports') di Indonesia, khususnya Dota 2 (karena bidang yang gw kerjain di 2014 memang terfokus di Dota.)

Gw bisa bilang bahwa tahun ini adalah tahun terbaik sejauh ini untuk perkembangan Dota 2 di Indonesia. Walaupun untuk segi prestasi masih belum bisa menyamai 6 tahun lampau, akan tetapi momen ini adalah pondasi yang sangat kuat untuk tahun-tahun ke depannya. Mulai dari player, tournament organizer, broadcaster & media, audiens serta sponsor saling membantu satu sama lain untuk membangun pondasi ini.
 
Kemajuan ini juga tidak bisa dilepaskan dari peran Valve sebagai developer Dota 2 yang menyediakan fitur-fitur penunjang agar sistem e-sports dapat dijalankan dengan mudah. Sistem lobby dengan broadcast channel, Dota TV dengan ticketing yang bisa di-monetize, dan statistik in-game maupun viewership yang dapat diakses oleh publik, membuat Dota 2 menjadi salah satu video game yang memang sudah dipersiapkan untuk menjadi sebuah ekosistem - dimana semua aspek yang terlibat saling menunjang untuk satu visi yang sama, yaitu menjadikan game sebagai 'e-sports'.

Gw belum sempet kumpulin data, tapi gw yakin jumlah turnamen di tahun ini jauh lebih banyak dibanding turnamen di tahun lalu. Dari segi prizepool pun bervariasi, mulai dari yang hadiahnya rare/key sampai yang total prizepoolnya ratusan juta Rupiah. Menurut gw ini udah bagus sekali, karena dengan banyaknya turnamen dengan prizepool yang bervariasi maka secara tidak langsung tim-tim yang berkompetisi sudah terbagi ke dalam kategorinya masing-masing. Tim amatir di kompetisi amatir dan tim besar di kompetisi besar. Tidak perlu banlist seperti saat era DotA beberapa tahun yang lalu.

Baik turnamen yang kecil maupun yang besar, sudah mulai memperhitungkan sisi entertainment untuk membuat kompetisi yang mereka adakan lebih seru dan menarik untuk ditonton. Disinilah peran broadcaster. Dan di tahun ini banyak sekali caster yang bermunculan, semuanya punya ciri khas tersendiri. Mungkin tinggal soal jam terbang dan exposure. Gw berharap caster-caster yang baru bisa belajar buat lebih profesional dan serius kalo emang niatnya emang pengen bantu majuin industri competitive gaming nasional. Gw juga pengen di tahun depan ada lebih banyak pro player yang bantu ngecast juga, karena gw yakin player yang punya pengalaman kompetitif banyak bisa jelasin lebih detail dan tepat tentang permainan yang sedang berjalan.

Tapi menurut gw, caster aja masih kurang. Production value dari broadcast channel terkenal seperti BTS, JoinDota, mereka punya dedicated observer/cameraman sehingga caster-casternya gak perlu pusing ngatur stream dan panning camera sehingga bisa lebih fokus. Serta tim statistik yang bisa catet progress player serta tim dalam berbagai turnamen yang mereka ikuti. Ini yang ingin gw coba terapkan tahun depan. Gw sekarang pengen buat post-match analysis final MGS Season 2, tapi entah kenapa gw masih setengah males buat mulai (need moodbooster.)

Statistik itu penting. Kita bisa bandingin performance kita dengan orang lain. Kita bisa tau apa yang orang lain lebih unggul dari kita, sehingga kita bisa pelajari untuk memperbaiki diri. Kita juga bisa mencatat progress kita dari waktu ke waktu, apakah sudah cukup baik, stagnan atau naik-turun. Untuk itulah gw pengen ngisi bidang ini karena gw pengen coba ningkatin production value supaya bikin viewer lebih tertarik buat terus ngikutin e-sports Indonesia.

Gw berharap di tahun 2015 nanti Indonesia bisa host turnamen Dota 2 multinasional seperti WCG Asian 2011 yang lalu. Selain bisa melihat dan mempelajari tim-tim profesional luar bermain secara langsung, dengan playerbase Indonesia saat ini yang bisa dibilang terbesar di Asia (selain Filipina & Tiongkok) maka turnamen multinasional di Indonesia akan sangat besar dari segi audiens. Mungkin cukup datengin tim-tim negeri tetangga seperti Invasion, FD atau Mineski juga udah cukup menurut gw.

Selanjutnya, 2014 dari segi playerbase juga mengalami peningkatan. Gw sih awalnya gak nyangka kalo di MGS kemarin bisa ada 350+ tim yang daftar (sekitar 1750 orang). Walaupun secara skill yang mendominasi masih tim itu-itu aja. Gw juga sadar kalo secara skill rata-rata, Indonesia masih jauh dibanding negara lain. Lah orang yang biasa posting (pamer) screenshot di grup FB MMRnya rata-rata 2000an. Udah gitu bangga lagi.

Tapi apa mau dikata. Dengan minimnya penghasilan yang bisa lo dapet dari main Dota saat ini (atau dalam artian yang bisa bikin Dota jadi sumber pendapatan rutin itu cuma sedikit), itu membuat kebanyakan orang belum mau komitmen 100% untuk mempelajari dan mendalami Dota. Yang daftar MGS pun, mungkin sebagian cuma ingin iseng-iseng ikutan turnamen gratis aja. Dan setelah kalah bubar atau cari tim baru.

My respect buat tim-tim yang sudah mencoba berdedikasi dengan komitmen pada roster/organisasi walaupun secara prestasi masih belum dapat menembus tingkat internasional seperti Mahameru, SemiDevil, RevivaL dan tim-tim lainnya yang selama setahun ini mengikuti turnamen walau tanpa atau minim sponsor. Industri gaming di sini memang masih sulit untuk diakui sebagai industri yang legitimate, tapi saat ini lebih baik dibanding kemarin-kemarin dan tahun depan mestinya lebih baik dari tahun ini.

Gw juga berharap dengan banyaknya playerbase Indonesia maka akan ada lebih banyak individu yang punya dedikasi lebih buat bikin ekosistem e-sports Indonesia semakin kuat. Entah sebagai pro player, broadcaster, jurnalis, panitia turnamen, investor, atau bahkan fans. Gw percaya, apapun yang kita lakukan sepenuh hati pasti hasilnya akan lebih baik pada akhirnya. Walaupun untuk menginvestasikan waktu, tenaga, materi dan pikiran kita untuk sesuatu yang masih belum jelas masa depannya itu sangat sangat butuh perjuangan.

Sepakbola awalnya dari permainan biasa, lalu semakin banyak orang memainkannya lalu muncullah kompetisi, dan seiring waktu kompetisi tingkat tertinggi dikemas sedemikian rupa menjadi sebuah hiburan untuk penikmat dan pecinta sepakbola. Ini juga akan berlaku untuk e-sports secara umum - dari permainan, kompetisi, menjadi sebuah showbiz. Hanya saja saat ini masih perlu kerja keras untuk mewujudkan itu.

Tahun depan gw harap competitive scene lokal semakin solid, gak perlu muluk-muluk ke TI, Starladder, Dreamhack dsb. dulu. Cukup perkuat scene lokal dengan membuat event-event yang menarik baik untuk player maupun audiens, sehingga kita bisa saling menghargai apa yang kita lakukan masing-masing - player mencari nafkah & prestasi, investor mencari branding, broadcaster menghibur audiens, media menyampaikan informasi, dsb.

Dengan begitu kita bisa mengerti bahwa apapun peran kita dalam industri ini, kita pun dalam hati punya satu visi yang sama: "To grow the gaming industry".


Happy New Year 2015!



tl;dr
- this year is better than ever
- we need to work harder for the next year
- sustain local scene in the first place!
Read More

Life indeed isn't fair

Yesterday, a fellow dota personality, an extraordinary energetic friend (whom I won't reveal his name) reached me at IGS and invited me to a casual conversation.

We had a quite long talk about what is happening since he was absent from the scene for a moment (also a few friendly banter). About stuffs.. But one thing interesting is when he asked about my story, and how I managed to be at where I am right now.

So I shared quite a lot about it. How and why I quit my study to pursue a gaming career, and my risky life-changing decisions. For sure I want to know why he wanted to know more about it but since he's super talkative he started to share his story before I even asked for.

At the moment he is in a complicated situation.. Quite the same thing people will experience in their teenage going into adult life. But there is a difference.. and I think it's a harder situation than mine.

I cannot give so much advice. I'm not a doctor, I'm also a troubled person. You know I told him to 'follow your heart', and stuffs like that.. but I know people will have different experiences despite other's golden advice. And some won't work for others.. I believe people will need to take a lesson from their own mistakes. And that's what makes life a life.

I forgot to tell him one thing..

Life isn't fair.

Some are born with a better condition, and some are not. Better looks, wealth, family status, you name it.

Me, too, I think I started life with some perks others didn't have. But then I started realizing that I don't have what others have as well.. Or there is someone who has more.. That makes me suffer a form of depression.

Well yeah I still believe life isn't fair. So I just live with whatever I have right now..

He's a great person, a few who is willing to give more than receive. I must admit his passion for dota is incredibly awesome and I feel sad to hear his current situation.

I hope he will find out what's best for his life. God speed.

Read More

6 bulan sudah

..sejak pertama kali gw ditawarin buat bikin DTVI.

November 2013 setelah Jakarta Game Show.. Awalnya gw ga yakin karena sebenernya background Dota gw gak begitu lama, gw main cuma casual aja dan buat soal competitive gw cuma sekedar mengamati aja. Gw tau XcN, gw tau Joenet, nxl>, tapi gw ga pernah sedikitpun berpikir bakal jadi seorang shoutcaster. Apalagi gw antisosial, autis. Mana bisa ngomong.

Ada 1 hal yang lucu - kalo misalkan si Yudi gak ngajakin gw bikin DTVI, gw seharusnya udah ikut audisi Indonesian Idol. Entah lolos apa gagal.. tapi gw malah lebih yakin lolos audisi Idol dibanding jadi caster Dota. (hahaha)


Awal pertama gw ngecast sebenernya ya pas final IESL di JCC itu. Dan silakan liat sendiri komentar-komentarnya. Jangankan mikir gimana caranya improve - gw pun ngerasa udah cukup buat jadi caster sekali aja, waktu itu.

Tapi Yudi, ko Joe.. Gw lihat mereka berdua punya semangat & passion yang tinggi. Shoutcast itu bukan sekedar jadi komentator, tapi sekaligus menjadi jembatan antara pro player dengan audiens. Menjelaskan alur pertandingan sekaligus menghibur penonton.. sebuah tanggung jawab yang tinggi. Dota 2 adalah game yang bakal menjadi kompetisi esports terbesar sedunia, dan gamers Indonesia sudah kenal Dota dari 10 tahun yang lalu. Mustahil kalau gamers Indonesia gak suka Dota 2.

Kebetulan, tim RRQ yang menjadi juara IESL diberangkatkan ke ACG 2013. Bisa dibilang, DTVI bisa sebesar sekarang karena RRQ. Kami bener-bener punya timing yang pas. Sangat beruntung. Ko Joe pun sudah punya link dengan tournament organizer SEA, jadi kami pun langsung punya akses untuk ngecast turnamen berskala internasional yang diikuti RRQ pertama kali (GIGABYTE Premier League).

So yeah. We gotta start.. ga peduli gimana keadaannya. Kami gak punya modal gede buat langsung bikin studio broadcast dengan fasilitas yang komplit, jadi.. kami start dengan laptop gw yang sudah lumayan usang, dan untuk koneksi internet kami nebeng di warnet 3Cs, Bintara Bekasi. (sampe sekarang.) Berhubung gw ada background design (branding & UI), gw coba bikin logo DTVI dan overlay buat stream.

Sebenernya gw juga kurang puas sih sama logonya, tapi ya udah lah ya. Yang penting jadi dulu.

Waktu itu turnamennya hampir setiap hari diadain, dan kita lagi coba cast semua match yang ada. Jadi hampir tiap hari gw nginep di 3Cs bareng laptop gw, makan seadanya (karena waktu itu gw udah cabut dari perusahaan gw buat coba fokus full-time di DTVI), tanpa income dan mikir gimana caranya cari duit dari sini.

Yang penting jalanin dulu. Yang namanya niat kalo ga dibarengi usaha jadinya bullshit.


Dan tentunya karena kami masih newbie buat soal shoutcast, gak sedikit kritik & makian berdatangan.. Mulai dari yang konstruktif sampai yang destruktif. Kesel pasti iya tapi karena gw memang ga punya modal apa-apa jadi ya gw sambil ngebiasain dulu. Tentu gw harus sabar sabar dan terus sabar, sambil nyari formula yang bagus buat bikin viewer seneng nonton stream kami.

1-2 bulan, mulai kerasa sih.. Karena gw ngga punya monthly salary lagi, gw sampe jual Osky & Trapjaw gw buat makan (untung waktu itu harganya masi mahal). Sambil terus cast, bikin overlay, update info di FB & Twitter, upload replay, tiap hari.. Perlahan-lahan mulai ada improvement, walaupun masih banyak minusnya. Satu persatu mulai ada viewer setia yang tiap cast selalu nonton di Twitch.


Tapi syukurnya Ko Joe punya relasi lagi yang waktu itu mau bikin turnamen di Jakarta, dan kami diminta jadi organizernya. Berhubung gw punya pengalaman lagi sebagai organizer (di Digitalife), jadi udah ga kaku lagi soal rundown dan preparasi turnamennya. Dan itu pertama kalinya DTVI dapet income. Seneng banget kayanya waktu itu hahaha..

Gw pun sekaligus coba kenalan sama pro player Indo satu persatu, dimana gw dulu hanya bisa mengamati kiprah mereka dari jauh (sebagai wartawan) sekarang gw lebih dekat sama mereka. Kami pengen mereka jadi role model & idol buat audiens lokal, supaya competitive scene lebih rame serta menginspirasi viewer untuk 'go with your passion'.
Untuk soal ini, hmmm kayanya dari gw pribadi ngerasa program ini ga begitu sesuai harapan, tapi gw yakin untuk setahun kedepan bakal ada peningkatan. Dan yang gw lihat sekarang viewer udah mulai ngedukung tim-tim besar Indonesia buat event internasional. Lalu tim-tim baru namun potensial buat menjadi penerus mereka. Ini udah bagus banget.

Gw adalah orang yang perfeksionis, gw pengen semuanya berjalan dengan baik dan untuk itu gw berusaha nyiapin semuanya tanpa ada miss sedikitpun. Tapi namanya manusia ya pasti ada salah dan lupa, dan ketika kesalahan itu terjadi gw bisa emosi dan nyalahin diri gw sendiri.. Nothing & no one to blame, just myself.

Ketika gw dibilang cupu, gw emosi. Tapi gw balik lagi, kenapa gw dibilang cupu. Apakah gw bisa menghilangkan hal-hal yang membuat gw dibilang cupu itukah, itulah PR gw. Cuman gw memang orangnya impatient.. Kadang ketika pikiran gw butuh istirahat, gw masih harus terbebani dengan tuntutan hidup & profesionalisme. Dan overthinking ini yang kayaknya bikin badan gw kurus mulu.

DTVI mulai gede, viewer makin banyak, dan karena makin banyak inilah tantangan dan cobaannya makin gede. Waktu itu gw masi dibantu oleh finance orangtua gw, tapi tetep yang namanya laki-laki berumur setengah abad gak boleh lah ngandelin ortu terus. Gw ditawarin kerja di Qeon dan akhirnya gw terima, walaupun gw tau gw bakal lebih cape lagi.. Tapi mau gimana? Namanya cari duit ya pasti capek.

Jadi sebulan terakhir gw siang kerja kantoran, dan malem ngurus DTVI. Sabtu-Minggu pun karena cukup banyak turnamen yang diadain gw ngga punya cukup waktu istirahat. Replay mulai keteteran, kadang tiap pulang kerja gw langsung cabut ke 3Cs sambil bawa laptop + HS + keyboard (6 kg di punggung gw) buat cast abis itu pulang dan tidur. Yudi juga masih kuliah, Oddie juga, Ko Joe kerja. Semuanya punya kesibukan masing-masing, gw juga gak mau terlalu ngerepotin mereka.

Sebenernya ini kesempatan yang bagus buat nempa stamina gw, tapi gw tetaplah orang yang perfeksionis dan emosional.. ketika chat Twitch & Dota TV kembali menilai kemampuan gw yang gak menghibur, gw gak bisa berbuat apa-apa karena memang itulah yang bisa gw lakukan saat itu. Dan balik lagi.. gw emang ga pernah berniat jadi caster sejak awal.

Gw udah mulai ga fokus antara kerja dan cast, gw sering telat masuk kantor sebulan ini dan udah dapet teguran juga dari atasan. Gw masih harus hidupin DTVI, tapi di waktu yang sama gw juga mesti ngorbanin salah satu.

Jadi ya udahlah.. karena hampir setiap gw cast bawaannya capek + emosi + sakit kepala terus, what good does it do for me? Walaupun banyak yang dukung gw tapi apakah ada yang bisa kasih solusi buat 3 masalah utama gw tersebut? Cuma gw doang kan yang bisa karena hanya gw yang paling ngerti diri gw sendiri.

So I quit. For good.

Gw masih tetep bantu DTVI dalam bentuk materi dan support behind the scene, hanya kalo jadi caster sih ngga deh ya. Hehehe. Gw ga mau brainchild gw dan temen-temen gw mati.

Gw yakin setelah TI4 banyak turnamen lokal yang ngasih hadiah gede, bakal banyak sponsor buat tim-tim lokal supaya mereka bisa survive dan fokus full-time Dota, bakal banyak caster & personality Dota yang menghibur dengan ciri khas masing-masing. Dota bakal jadi sesuatu yang ngebanggain. Karena yang bikin Dota gede adalah kita semua, komunitas Dota.

Sorry for the long rant and thank you for reading (if you really are). Gw bukan siapa-siapa dan gw bukan orang yang mesti dibela. Gw lemah, gw cuma manusia biasa.

This is the beginning of my journey. B L O G B O Y S fluff thread ends here.
Read More

"Bocah Warnet", Kecanduan Game, Dan Bagaimana Kita Harus Menyikapinya

Sebelum jadi jurnalis, gw pernah sempat jadi operator warnet (alias OP) sekitar 3 tahun yang lalu. Selama beberapa bulan itu gw dapet sejumlah pengalaman menarik, serta segelintir wawasan baru yang ga bakal bisa didapetin dimanapun kecuali buat para OP warnet.

Buat yang biasa atau sering main di warnet, pasti ngerti dong ya dengan sebutan "bocah warnet". Definisi lengkapnya: anak-anak muda berusia 7 - 13 tahun yang biasanya datang berkelompok untuk main game online di warnet, tiap pagi dan siang hari. Para bocah kemarin sore ini akan memenuhi warnet selama beberapa jam, tidak jarang membuat kegaduhan dan yang mengkhawatirkan, cenderung untuk merusak properti warnet seperti mouse dan keyboard.



Gw engga tau dan sebenarnya engga mau tau kenapa mereka lebih sering datang saat pagi dan siang hari, baik di hari kerja maupun weekend. Mungkin mereka sekolah di kelas siang, bolos sekolah atau ngga sekolah sama sekali. Tapi menurut pengamatan gw, bocah-bocah ini lebih cenderung ke warnet di jam sekolah - bukan saat jam pulang sekolah.

Seperti yang gw sudah tuliskan di atas, mereka cenderung datang berkelompok dan punya kelompok bermainnya masing-masing. Nah yang lucunya ini, kadang mereka cuma beli billing untuk satu atau dua PC saja, dan sisanya menonton (atau tukeran). Biasanya mereka cuma main 1 atau 2 jam, dan game yang mereka mainkan hampir semuanya seragam - 'PB' dan 'LS'. Jarang gw liat ada bocah dengan definisi 'bocah warnet' di atas yang main game selain 2 game tersebut - palingan sejumlah game-game MMORPG.

Oke.. Sekarang gw tanya sama yang biasa main di warnet - apakah kehadiran mereka cenderung mengganggu kalian yang sedang ngegame?

Pasti ada yang bilang "Iyaa betul! Mereka berisik, ga tau malu, kadang suka mondar-mandir gak jelas di belakang gw, bikin gw risih". Tapi juga ada yang bilang "Bodo amat, selama gak ngeganggu gw main, terserah mereka aja".

Ya.. Gw pun sebenernya gak terlalu peduli sama kehadiran mereka (ya dong, selama mereka ga ngutang billing, warnet gw masih dapet pemasukan). Selama engga terlalu bikin rusuh sampe ada mouse atau keyboard rusak, gak bakal gw tolak mereka buat masuk warnet gw.

Tapi sadarkah teman-teman semua, kalau bocah-bocah warnet ini adalah salah satu penyebab industri game online di Indonesia sangat sulit mendapat apresiasi positif dari masyarakat umum? Pernahkah kalian dengar berita kalau warnet-warnet di Tangerang terancam ditutup oleh Pemda akibat dianggap merusak kalangan pelajar, beberapa tahun yang lalu? Terus yang sampe bikin heboh, acara di RCTI itu.

Alasannya memang logis - bikin lupa waktu, merusak moral, menyebabkan kecanduan.

Yang agak lucu adalah ketika kita harus mencari siapa yang salah. Bocah-bocahkah ini yang salah karena melupakan pendidikan demi game online (karena konon menurut studi ilmiah, usia 7 sampai 17 tahun merupakan masa-masa terbaik bagi manusia untuk menyerap ilmu pengetahuan), apakah karena orangtua mereka tidak melarang, menjaga atau memberi pengarahan, ataukah karena warnetnya yang membiarkan mereka dapat main di warnet tanpa batas waktu tertentu?



Sebelum gw lanjut, gw punya satu cerita unik.

Dulu pas gw masih jadi OP, gw pernah makan di sebuah warung tenda deket warnet gw (pas gw lagi off). Lalu datanglah 2 orang bocah yang mengemis-ngemis minta uang ke semua pengunjung warung tersebut termasuk gw. Nah ketika gw lihat muka mereka, kok gw pikir gw pernah ngeliat mereka berdua di warnet gw. Tapi ya engga gw kasih duit juga sih mereka (soalnya gw emang udah ga mau ngasih duit ke pengemis lagi, kecuali pengamen yang emang keliatan niatnya - bukan cuman tepuk tangan sambil nyanyi doang.)

Dan ternyata bener besok siangnya kedua bocah itu datang beli billing, disaat gw lagi jaga. Jadi gw bisa menarik kesimpulan - bocah-bocah warnet ini bisa melakukan apa saja agar bisa lanjut ngegame di warnet, termasuk mengemis.



Back to topic.. yah, inilah fenomena yang cukup dilematis dalam industri game online Indonesia. Di satu sisi, karena populasi bocah-bocah warnet ini cukup banyak sekali, bisnis game online bisa tetap berlanjut sampai saat ini. Namun efek negatifnya adalah membuat generasi anak-anak muda ini tidak berkembang dengan baik - jika tidak dikendalikan.

Jadi kudu piye tuips? Mesti dilarangkah bocah-bocah ini main di warnet? Ataukah harus dibuat peraturan pemerintah yang membatasi jam main mereka? Atau dilarang sama sekali, sebelum menginjak usia tertentu?

Tapi menurut gw salah kalau pendekatannya itu 'dilarang'. Anak muda, terutama yang baru puber, semakin dilarang semakin membangkang. Contoh simpel - "Jangan nonton bokep ya nak.." eh jadi penasaran kok dilarang, terus cari cara buat memuaskan rasa penasaran itu. Akhirnya tetep nonton bokep juga deh. Hahahah.. Yang lebih bagus adalah diberikan wawasan, pengertian dan pemahaman tentang game online.

Tapi kalau gw berpikir dari sudut pandang bocah-bocah ini sendiri, ada dua alasan yang membuat bocah-bocah ini lebih memilih untuk main game online.

Pertama, karena lebih seru dari sekolah. Woiya dong, sekolah (di Indonesia) itu membosankan. Dikasih tugas banyak, pas di kelas ngantuk karena gurunya cuma ngejelasin hal-hal yang udah ditulis di buku pelajaran. Coba kalo sekolah itu tidak membosankan, lebih banyak aktifitas menarik seperti eksperimen atau metode pembelajaran yang lebih interaktif.

Kedua, karena ngga ada aktifitas non-akademis yang lebih seru dari game online. Jaman gw dulu pulang sekolah biasanya main tamiya, layangan, bulutangkis atau bola di lapangan komplek tiap sore. Semenjak era booming game online di awal tahun 2000an, anak-anak muda mulai beralih ke warnet. Mainan-mainan lain seperti arcade (Timezone atau sejenisnya) dan konsol mulai ditinggalkan karena akses game online yang lebih mudah dan murah. ("Free to play!")

Daytona USA - kalo sekarang sih digantiin sama Maximum Tune kali ya

Gw ngga pernah bilang game online itu gak bagus buat anak-anak.. Justru game online itu bagus karena lebih interaktif dan global dibanding video game generasi sebelumnya. Dulu kalo gw main PS di rental, temen gw ya yang biasa main di rental itu juga. Sekarang di era game online, gw bisa kenal semua orang, dan semua orang bisa kenal gw. (ya keleus..)

Masalahnya adalah karena di game online semuanya berbaur - mulai dari bocah warnet, pemuda gemar mabuk sampai om-om yang cuma main poker dan bola tangkas di warnet - inilah sebenarnya yang membuat mindset bocah-bocah ini bergeser dari yang semestinya. Gak jarang kan kita-kita yang lebih tua ini berperilaku kasar di dalam game baik dengan kata-kata maupun tindakan. Dan bocah-bocah yang belum mengerti ini bakal ikutan juga seperti kita, dan akibatnya terbawa ke dunia nyata.

Berperilaku agresif, impulsif dan eksplosif - serta menjadi adiktif.



Korea Selatan, surganya para gamer, juga telah mengkategorikan game dalam '4 hal yang membuat kecanduan', selain alkohol, judi dan narkoba (bedanya kalo disini Rhoma Irama belom bikin lagu tentang game online, heheheh). Selain Korea, beberapa negara lain seperti Amerika Serikat dan Cina juga telah membuat program rehabilitasi untuk para pecandu game online.

Ingat, ini bukan melarang secara total, karena sebenarnya ketiga negara yang gw sebut di atas juga memiliki developer-developer game kelas atas yang sudah diakui kualitasnya - dan hampir semua game online di Indonesia dibuat oleh developer Korea & Cina. Industri game online disana juga sangat-sangat digenjot bahkan oleh pemerintahnya sendiri.



Haruskah ada semacam tempat treatment seperti itu di Indonesia? Perlu, karena disini kita sudah terlalu jauh tertinggal - dan bisa lebih ketinggalan lagi kalau tidak ada upaya lebih lanjut.

Yang ada di bayangan gw untuk panti rehabilitasi semacam ini adalah agar para gamer 'yang tersesat' (termasuk bocah-bocah warnet ini) bisa mengembangkan potensi mereka tanpa membatasi hobi gamingnya. Karena bukan tidak mungkin bocah-bocah ini bisa jadi game developer yang melahirkan game-game berkualitas, atau jadi atlit e-sports yang berprestasi di event internasional. Atau jadi jurnalis game.. Sapa tau?

Dan satu yang perlu diperhatikan lagi, adalah pengkategorian game online yang tidak mendapatkan kontrol dan pengawasan. Kenapa bocah-bocah warnet ini cenderung bermain game yang seharusnya belum pantas untuk mereka.. Apakah karena gamenya ramai? Apakah karena teman-temannya juga main game yang sama? Apakah karena tidak banyak pilihan game lain yang lebih cocok untuk usia mereka?

Disini semestinya perlu ada filter tambahan untuk game-game dengan konten yang dikategorikan pada batasan umur tertentu. Yah.. agak susah sih kalo soal ini, tapi setidaknya bisa lah pake KTP atau sejenisnya.



Lalu yang terakhir, entah gimana caranya tapi gw yakin bisa adalah memperkenalkan bocah-bocah ini ke game-game lain yang sebenarnya lebih seru dan lebih cocok untuk mereka. Gw sendiri juga heran sih kenapa sekarang jarang sekali ada game-game simulasi bertema 'tycoon' - karena sesungguhnya game-game tycoon adalah game yang lebih banyak memberikan efek positif!! (catet kata-kata gw ini.)

Selain bikin roller coaster, gw juga paling suka bikin track go-kart.

Railroad Tycoon, Rollercoaster Tycoon, Transport Tycoon, Theme Hospital.. banyak banget contohnya. Kalo misalkan gw punya anak (setelah punya istrinya dulu tentu saja), bakal gw jejelin game-game bertipe ini pas dia masih bocah. Gw bakal ajarin gimana mainnya, dan gw jamin dia bakal lebih kreatif karena dia bakal dikasih sebuah ruang kosong yang bisa diisi sesuka hati dia - sambil mengasah kemampuan problem solving yang menjadi tantangan di game-game tersebut.

Teman-teman mungkin punya contoh sendiri buat game-game dengan dampak positif. Pokemon oke. Final Fantasy oke. Atau yang lainnya. Silakan sebarkan dan racuni game-game tersebut ke teman-teman kalian.



Mungkin cukup disini aja tulisan serta curhat gw. Gw masih percaya kalo bocah-bocah warnet masih lebih baik dibanding bocah-bocah tukang tawuran (kecuali ada yang 'berprofesi' sebagai keduanya), karena mereka dasarnya memang senang bermain game dan hanya perlu dibukakan pintu wawasan gaming-nya supaya lebih luas.

Dan sepertinya inilah tugas kita sebagai yang tua-tua.

Read More

On-topic: Beratnya persaingan game online di Indonesia

Selamat hari Jumat! ..dan maap karena gak ada sesuatu yang baru di blog gua kali ini. Maklum, kerjaan design lagi banyak (FYI gua disini kerja sebagai graphic designer dan juga journalist) dan gua orangnya cukup susah untuk ngebagi otak antara 'menulis' dengan 'mendesain'. Kind of that. Jadi ketika gua sedang fokus mengerjakan design, gua tinggalin dulu tulisan-tulisan gua yang ke-pending cukup banyak, diantaranya review tentang Guild Wars 2, CS:GO, dan headset Siberia Frost Blue untuk website Game8, terus artikel dari film-film baru yang gua screening, serta beberapa post untuk gaming blog ini yang gua rahasiain dulu sampe nanti.

Tapi sekarang kerjaan design gua udah pada kelar, jadi untuk beberapa saat ini gua bisa konsen menulis. Semoga bisa gua up sesuai dengan harapan gua. Well, speaking of Game8, temen gua bikin satu tulisan yang ngebahas tentang persaingan game-game online di Indonesia.

Beneran lagi hot, soalnya banyak yang tahun ini menutup servicenya. Kitsune dan ACE Online dari Winner, Mixmaster dari Kingslaim, WolfTeam dari Softnyx, Emil Chronicle Online (ECO) dari Wavegame, Samkok dari VTC, 81Keys dari OrangeGame, dan kalo ga salah ada beberapa lagi tapi gua lupa. Banyak game baru juga yang muncul dan banyak yang mati. Dan sayangnya, ada yang baru buka beberapa bulan tapi udah tutup lagi. Apa nggak rugi tuh publisher beli lisensinya?

Anyway, silakan kesini kalo mau baca artikel doi: Beratnya Persaingan Game Online Di Indonesia



Read More

Kenapa gua gak lanjut main TERA.

Gua udah nungguin TERA rilis sejak bertahun-tahun yang lalu. Dan saat Enmasse buka situs pendaftaran untuk closed beta TERA, gua langsung daftar gak pake lama. Begitu tau Enmasse blok IP Indonesia, gua pindah haluan ke Frogster, server EU.

Gua nungguin agak lama untuk dapet konfirmasi bahwa gua bisa join di closed beta. Sambil liat trailernya yang keren itu. Setelah berbagai kejadian dalam hidup gua, akhirnya gua dapet email dari.. Enmasse. Tentunya gak gua tanggepin karena udah tau soal IP block itu. Barulah beberapa waktu kemudian gua dapet yang dari Frogster. Sesi closed beta kelima akan dibuka dalam beberapa hari berikutnya.

Gua nitip download pake koneksi kantor, dengan ukuran client yang mencapai 35GB itu (jadi gua butuh 70GB, untuk download -> instalasi -> delete temp file). Kalo nggak salah butuh 2 malem (siangnya gua pause, karena pasti ngeganggu koneksi yang lain). Dan akhirnya gua bisa ikut ambil bagian sekaligus mencoba rasanya bermain TERA ini.



Wow. Gua harus mengakui bahwa game ini nearly perfect, dari visual ke gameplay. Dengan spek notebook gua yang menengah ke atas, game ini bisa dijalanin mulus dengan resolusi tinggi. Mekanisme action seperti Dragon Nest, namun lebih realis. Gua mainin terus char gua selama CBT yang cuman berlangsung beberapa hari itu, nyobain beberapa tipe class dan variasi tampilan untuk tiap ras.

Gua udah mikir kalo gua harus beli yang Collector's Edition. Sayangnya waktu itu lagi akhir bulan dan duit gua udah half-spent buat ngobatin galau urusan yang lain. Dan sambil mikir-mikir lagi, apakah dengan gua beli ini gua bakal main TERA terus. Lalu dari situ gua mikir, kalo gua main ini berarti gua harus menyisihkan waktu beberapa jam tiap malam biar subscription gua gak mubazir.



Dan berdasarkan pengalaman gua, sekalinya gua seriusin satu game MMORPG, semuanya bakal keteteran.. Dan mengingat gua udah punya pekerjaan tetap sekarang, gua pikir gua gak bakal bisa lagi main serius untuk game apa aja. Bahkan jika menyisihkan waktu sedikit buat main tiap hari, gua rasa sekalinya gua serius, gua bakal ketagihan. Itu bakal berbahaya buat gua sendiri. Oke, good bye TERA.

Bukan berarti karena TERA itu jelek, malah justru gua bilang ini game bener-bener unik. Keren. Wajib coba, pasti ketagihan. Tapi, gua ngga bisa bagi waktu gua buat grinding dan juga ngurusin kerjaan. Gua udah nyerah kalo seriusin main MMO sekarang. Diablo III, yang rame sekalipun, gua gak ada minat buat mainin. Guild Wars 2? Pengennya sih cuman 'liat-liat aja', sama kayak TERA ini.

Lalu karena gua jomblo, gua harus cari pacar, bukannya main MMORPG yang isinya hampir cowo semua. Kalo MMO casual sih okelah, seenggaknya ada lumayan banyak cewenya. Kecuali gua udah punya cewe, gamer, pasti gua ajakin main MMORPG bareng. Gua bayarin langganannya kalo perlu dah. Yang penting punya..


Read More

Konspirasi dalam turnamen resmi. Hmm, jadi inget..

Barusan gua baca berita di Kotaku mengenai kompetisi LoL di MLG yang harus diakhiri dengan sebuah skandal. Team Curse dan Dignitas yang bertanding di final turnamen tersebut harus didiskualifikasi karena terlibat dalam kasus 'pengaturan skor'.

Emm, bukan pengaturan skor juga sih.. Soalnya gua ngga tau istilah yang pas-nya. Tapi intinya gini, kedua tim tersebut sebelumnya udah sepakat kalo hadiah mereka berdua akan dibagi rata, ga peduli siapa yang juara 1 atau 2. Dan saat pertandingan final berlangsung, mereka gak bermain sebagaimana mestinya sebuah final; dengan ketegangan intens serta strategi yang tersusun rapi; mereka malah main ARAM. All random, all mid.

Sedangkan di MLG sendiri udah ada aturan yang ngejelasin kalo para peserta dilarang "melakukan konspirasi untuk mengatur ranking atau bracket." Dan akibatnya, titel juara mereka dicopot dan hadiah mereka berdua pun dibatalkan. Sedangkan juara 3 dan 4 nya tetep dapet hadiah mereka. (harusnya dijadiin juara 1 sama 2 aja kali ya?)

Gua jadi inget dong waktu dulu jadi spesialis pemburu hadiah di turnamen Ayodance (ciee). Dulu gua sama temen-temen gua juga pernah 'maennya begini'. Terserah yang mau ambil juara 1 siapa, yang penting hadiah dibagi rata. Dan panitia sono juga gak bikin peraturan soal ini, jadi ya kami nyantai-nyantai aja.

"Sama-sama temen ini kan? Ga perlu bersaing terlalu ketat lah." 

Kita bertiga temenan deket, dan sama-sama juara. But we showed our true skills.



Kalo dipikir-pikir sih, itu agak ngerusak sportivitas dari sebuah kompetisi ya. Sama kayak kasus calciopoli atau calcioscommesse-nya Serie A, atau kasus badminton di Olimpiade baru-baru kemarin. Seharusnya para peserta, terlepas dari apakah mereka saling berteman atau bersaudara, bisa tetap bertanding secara sehat dengan mengeluarkan segenap kemampuan mereka untuk jadi yang terbaik, karena itu adalah "the spirit of competition". 

Tapi kalo nggak ada di peraturan, sah-sah aja kan ya? Nah lho..

Gua sih antara mendukung dan tidak mendukung kedua tim tersebut dalam kasus di atas. Gua rasa sih gak apa-apa kalo mereka mau split the prize. Tapi menurut gua, kesalahan mereka adalah di ARAM. Gak sepantasnya match ala public itu ditampilin di pertandingan final sebuah kompetisi besar. Walaupun mereka adalah teman sejati di kehidupan nyata, mereka seharusnya tetap bertanding sepenuh tenaga dalam kompetisi. Karena kompetisi juga menjadi hiburan bagi para penontonnya, dan karena gelar juara lebih berharga dari hadiah sebesar apapun.

Tentunya bakal lebih enak dan bangga dong, kalo kita bilang 'eh, gua juara 1 lho' daripada 'eh, gua dapet mobil blablabla lho'.

Gimana pendapat lu orang soal 'pengaturan skor' kayak gini?




Read More

Mitos Dan Fakta Seputar Game Original


Kebanyakan gamers Indonesia saat ini mempunyai mindset "Kalo bisa gratis, ngapain bayar?". Tidak hanya di Indonesia sih sebenernya, di luar pun juga banyak yang bermain game bajakan (yang bikin crack-nya juga orang luar kan?). Namun agaknya di Indonesia, persentase antara gamer yang memainkan game original dengan yang bajakan sangat timpang, dengan gamer bajakan yang mendominasi. Gua pun pernah menjadi salah satu orang yang berpikir sama seperti yang gua tulis di kalimat pertama.

Tapi menurut gua ini sangat berbahaya, karena pasar game PC saat ini sedang dianaktirikan akibat banyaknya pembajakan. Para developer game besar (seperti Ubisoft yang sangat sensitif dan parno soal piracy) saat ini lebih mengutamakan untuk merilis gamenya di console, dan merilis versi PC-nya dalam bentuk console port. Terkadang mereka juga menunda perilisan versi PC dalam rentang waktu yang cukup lama dibandingkan versi console-nya.

Ada beberapa alasan bagi orang-orang untuk membeli/memainkan game bajakan. Selain gratis, ada juga yang berpikir bahwa game ori itu mahal, ribet, atau sebagainya. Disini, gua akan memberikan informasi sekaligus menyanggah pendapat-pendapat tersebut dengan harapan kalian semua bisa mulai beralih ke game original (dan, hopefully, melupakan semua produk yang berembel bajakan.)

Mitos: Game original itu mahal! Masa game XXX aja harganya 500 ribu! Game bajakan tinggal download, paling cuman modal ongkos DVD/koneksi aja.
Fakta: Gak semua game original itu semahal yang lu kira. Memang pada awal rilis atau masa pre-order, harga game original bisa mencapai 500 ribu lebih. Tapi di Steam (www.steampowered.com, digital distributor game via download) lu bisa beli game original dengan harga diskon hingga 75%! Contohnya, gua beli Portal 2 cuman 50 ribu. Terakhir gua beli Counter-Strike Complete (yang isinya CS 1.6, CS: Source, CS: Condition Zero, sama CS: Global Offensive yang baru) cuma 170 ribu (harga aslinya sekitar 300 ribu). Biasanya game-game yang didiskon besar-besaran ini adalah game lama, namun bukan berarti game yang baru rilis tidak akan didiskon. Gua bakal bahas soal Steam ini nanti.
Lalu, ada juga indie bundle (paket game-game buatan developer kecil atau indie, biasanya 4 game) yang menawarkan promo pay as you want alias bayar sesuka hati! Dan game-game indie ini gak bisa dipandang sebelah mata, karena kualitas game buatan mereka tidak kalah dengan buatan developer besar seperti EA atau Activision. Contoh: Limbo, Orcs Must Die!, Torchlight, Bastion, dan banyak lagi.

Mitos: Beli game ori lewat digital itu ribet! Harus pake kartu kredit atau Paypal, sedangkan gua gak punya.
Fakta: Gua punya beberapa teman yang dapat membelikan game original (via Steam, Amazon, Origin, indie bundle, dll) dan mereka sangat terpercaya. Lu cuman perlu transfer via rekening bank lokal ke rekening mereka, dan mereka akan membelikan dan memberikan CD-Key gamenya. Tertarik? Lu bisa kontak gua dan gua bakal kontak mereka.

Mitos: Sekarang jamannya download, gak perlu beli CD game original lagi. Lagian di Indonesia juga susah cari CD game original, bajakan semua..
Fakta: Well, sekarang memang jamannya download. Coba kenalan dulu deh sama Steam, mereka menyediakan layanan download game dengan jalur cepat, fitur pause dan resume, auto-update (ketika game yang dibeli ada update, dapat langsung didownload). Tapi bukannya gua tidak suka game berbentuk disc. Sekarang makin banyak lho, toko komputer yang menjual DVD game ori (terutama akibat Diablo III), apalagi kemasan serta isinya bisa dijadiin koleksi. Tapi soal harga sih masih lebih murah game digital. (dan juga menghemat biaya produksi bagi para developer kan?)

Mitos: Gamenya sama. Fiturnya sama. Bahkan ada game bajakan yang udah keluar duluan sebelum game orinya dirilis. Kalau sama-sama bisa dimainin, kenapa harus beli game original?
Fakta: Jangan lupa bahwa game bajakan tidak didukung oleh developer, rawan crash, crack-nya ada yang mengandung virus/trojan, gak bisa bermain multiplayer, gak auto-update.. dan yang terpenting, lu ngga mendukung perkembangan PC gaming yang saat ini lagi dianaktirikan. Apabila lu masih berpikir begitu, nampaknya lu harus lebih menghargai hasil karya orang lain.

Mitos: Gua nggak punya PC, gua main di warnet dan semua gamenya bajakan. Mau gimana lagi. Gua pengen kok punya game ori, tapi gua gak punya komputer sendiri..
Fakta: Nah, ini yang menurut gua jadi masalah utama di Indonesia sekarang. Berbeda dengan gamer barat yang cenderung ngegame di rumah masing-masing, gamer Indonesia cenderung bermain di warnet/rental. Tentunya bakal repot dan memakan ongkos banyak jika warnet yang berisi 30 kompi saja, misalnya, dipasangi game ori untuk tiap komputer (dengan kebijakan DRM one key per-user dari para developer saat ini). Dan juga, game-game PC saat ini memang diperuntukkan bagi personal user, bukan shared user.
Microsoft dengan Windows-nya sudah menekan tingkat pembajakan OS mereka dengan memberikan paket Windows khusus warnet/perusahaan. Nah, gua rasa developer game besar juga harus mengikuti langkah ini.



Gua sadar, di dunia ini ada hitam dan putih. Dan tidak semuanya dapat menjadi putih seluruhnya. Kejahatan akan tetap ada, dosa akan tetap terbuat, dan pembajakan tidak akan hilang. Namun alangkah baiknya jika kita dapat menekan dan mengembalikan kejayaan game PC seperti dulu. Karena sesungguhnya, PC adalah platform yang paling berpotensi untuk berkembang, dibanding konsol yang hanya berkembang setiap 4~5 tahun sekali.

If you call yourself a gamer, support your game developers. 



Read More
Powered by Blogger.