"Bocah Warnet", Kecanduan Game, Dan Bagaimana Kita Harus Menyikapinya

Sebelum jadi jurnalis, gw pernah sempat jadi operator warnet (alias OP) sekitar 3 tahun yang lalu. Selama beberapa bulan itu gw dapet sejumlah pengalaman menarik, serta segelintir wawasan baru yang ga bakal bisa didapetin dimanapun kecuali buat para OP warnet.

Buat yang biasa atau sering main di warnet, pasti ngerti dong ya dengan sebutan "bocah warnet". Definisi lengkapnya: anak-anak muda berusia 7 - 13 tahun yang biasanya datang berkelompok untuk main game online di warnet, tiap pagi dan siang hari. Para bocah kemarin sore ini akan memenuhi warnet selama beberapa jam, tidak jarang membuat kegaduhan dan yang mengkhawatirkan, cenderung untuk merusak properti warnet seperti mouse dan keyboard.



Gw engga tau dan sebenarnya engga mau tau kenapa mereka lebih sering datang saat pagi dan siang hari, baik di hari kerja maupun weekend. Mungkin mereka sekolah di kelas siang, bolos sekolah atau ngga sekolah sama sekali. Tapi menurut pengamatan gw, bocah-bocah ini lebih cenderung ke warnet di jam sekolah - bukan saat jam pulang sekolah.

Seperti yang gw sudah tuliskan di atas, mereka cenderung datang berkelompok dan punya kelompok bermainnya masing-masing. Nah yang lucunya ini, kadang mereka cuma beli billing untuk satu atau dua PC saja, dan sisanya menonton (atau tukeran). Biasanya mereka cuma main 1 atau 2 jam, dan game yang mereka mainkan hampir semuanya seragam - 'PB' dan 'LS'. Jarang gw liat ada bocah dengan definisi 'bocah warnet' di atas yang main game selain 2 game tersebut - palingan sejumlah game-game MMORPG.

Oke.. Sekarang gw tanya sama yang biasa main di warnet - apakah kehadiran mereka cenderung mengganggu kalian yang sedang ngegame?

Pasti ada yang bilang "Iyaa betul! Mereka berisik, ga tau malu, kadang suka mondar-mandir gak jelas di belakang gw, bikin gw risih". Tapi juga ada yang bilang "Bodo amat, selama gak ngeganggu gw main, terserah mereka aja".

Ya.. Gw pun sebenernya gak terlalu peduli sama kehadiran mereka (ya dong, selama mereka ga ngutang billing, warnet gw masih dapet pemasukan). Selama engga terlalu bikin rusuh sampe ada mouse atau keyboard rusak, gak bakal gw tolak mereka buat masuk warnet gw.

Tapi sadarkah teman-teman semua, kalau bocah-bocah warnet ini adalah salah satu penyebab industri game online di Indonesia sangat sulit mendapat apresiasi positif dari masyarakat umum? Pernahkah kalian dengar berita kalau warnet-warnet di Tangerang terancam ditutup oleh Pemda akibat dianggap merusak kalangan pelajar, beberapa tahun yang lalu? Terus yang sampe bikin heboh, acara di RCTI itu.

Alasannya memang logis - bikin lupa waktu, merusak moral, menyebabkan kecanduan.

Yang agak lucu adalah ketika kita harus mencari siapa yang salah. Bocah-bocahkah ini yang salah karena melupakan pendidikan demi game online (karena konon menurut studi ilmiah, usia 7 sampai 17 tahun merupakan masa-masa terbaik bagi manusia untuk menyerap ilmu pengetahuan), apakah karena orangtua mereka tidak melarang, menjaga atau memberi pengarahan, ataukah karena warnetnya yang membiarkan mereka dapat main di warnet tanpa batas waktu tertentu?



Sebelum gw lanjut, gw punya satu cerita unik.

Dulu pas gw masih jadi OP, gw pernah makan di sebuah warung tenda deket warnet gw (pas gw lagi off). Lalu datanglah 2 orang bocah yang mengemis-ngemis minta uang ke semua pengunjung warung tersebut termasuk gw. Nah ketika gw lihat muka mereka, kok gw pikir gw pernah ngeliat mereka berdua di warnet gw. Tapi ya engga gw kasih duit juga sih mereka (soalnya gw emang udah ga mau ngasih duit ke pengemis lagi, kecuali pengamen yang emang keliatan niatnya - bukan cuman tepuk tangan sambil nyanyi doang.)

Dan ternyata bener besok siangnya kedua bocah itu datang beli billing, disaat gw lagi jaga. Jadi gw bisa menarik kesimpulan - bocah-bocah warnet ini bisa melakukan apa saja agar bisa lanjut ngegame di warnet, termasuk mengemis.



Back to topic.. yah, inilah fenomena yang cukup dilematis dalam industri game online Indonesia. Di satu sisi, karena populasi bocah-bocah warnet ini cukup banyak sekali, bisnis game online bisa tetap berlanjut sampai saat ini. Namun efek negatifnya adalah membuat generasi anak-anak muda ini tidak berkembang dengan baik - jika tidak dikendalikan.

Jadi kudu piye tuips? Mesti dilarangkah bocah-bocah ini main di warnet? Ataukah harus dibuat peraturan pemerintah yang membatasi jam main mereka? Atau dilarang sama sekali, sebelum menginjak usia tertentu?

Tapi menurut gw salah kalau pendekatannya itu 'dilarang'. Anak muda, terutama yang baru puber, semakin dilarang semakin membangkang. Contoh simpel - "Jangan nonton bokep ya nak.." eh jadi penasaran kok dilarang, terus cari cara buat memuaskan rasa penasaran itu. Akhirnya tetep nonton bokep juga deh. Hahahah.. Yang lebih bagus adalah diberikan wawasan, pengertian dan pemahaman tentang game online.

Tapi kalau gw berpikir dari sudut pandang bocah-bocah ini sendiri, ada dua alasan yang membuat bocah-bocah ini lebih memilih untuk main game online.

Pertama, karena lebih seru dari sekolah. Woiya dong, sekolah (di Indonesia) itu membosankan. Dikasih tugas banyak, pas di kelas ngantuk karena gurunya cuma ngejelasin hal-hal yang udah ditulis di buku pelajaran. Coba kalo sekolah itu tidak membosankan, lebih banyak aktifitas menarik seperti eksperimen atau metode pembelajaran yang lebih interaktif.

Kedua, karena ngga ada aktifitas non-akademis yang lebih seru dari game online. Jaman gw dulu pulang sekolah biasanya main tamiya, layangan, bulutangkis atau bola di lapangan komplek tiap sore. Semenjak era booming game online di awal tahun 2000an, anak-anak muda mulai beralih ke warnet. Mainan-mainan lain seperti arcade (Timezone atau sejenisnya) dan konsol mulai ditinggalkan karena akses game online yang lebih mudah dan murah. ("Free to play!")

Daytona USA - kalo sekarang sih digantiin sama Maximum Tune kali ya

Gw ngga pernah bilang game online itu gak bagus buat anak-anak.. Justru game online itu bagus karena lebih interaktif dan global dibanding video game generasi sebelumnya. Dulu kalo gw main PS di rental, temen gw ya yang biasa main di rental itu juga. Sekarang di era game online, gw bisa kenal semua orang, dan semua orang bisa kenal gw. (ya keleus..)

Masalahnya adalah karena di game online semuanya berbaur - mulai dari bocah warnet, pemuda gemar mabuk sampai om-om yang cuma main poker dan bola tangkas di warnet - inilah sebenarnya yang membuat mindset bocah-bocah ini bergeser dari yang semestinya. Gak jarang kan kita-kita yang lebih tua ini berperilaku kasar di dalam game baik dengan kata-kata maupun tindakan. Dan bocah-bocah yang belum mengerti ini bakal ikutan juga seperti kita, dan akibatnya terbawa ke dunia nyata.

Berperilaku agresif, impulsif dan eksplosif - serta menjadi adiktif.



Korea Selatan, surganya para gamer, juga telah mengkategorikan game dalam '4 hal yang membuat kecanduan', selain alkohol, judi dan narkoba (bedanya kalo disini Rhoma Irama belom bikin lagu tentang game online, heheheh). Selain Korea, beberapa negara lain seperti Amerika Serikat dan Cina juga telah membuat program rehabilitasi untuk para pecandu game online.

Ingat, ini bukan melarang secara total, karena sebenarnya ketiga negara yang gw sebut di atas juga memiliki developer-developer game kelas atas yang sudah diakui kualitasnya - dan hampir semua game online di Indonesia dibuat oleh developer Korea & Cina. Industri game online disana juga sangat-sangat digenjot bahkan oleh pemerintahnya sendiri.



Haruskah ada semacam tempat treatment seperti itu di Indonesia? Perlu, karena disini kita sudah terlalu jauh tertinggal - dan bisa lebih ketinggalan lagi kalau tidak ada upaya lebih lanjut.

Yang ada di bayangan gw untuk panti rehabilitasi semacam ini adalah agar para gamer 'yang tersesat' (termasuk bocah-bocah warnet ini) bisa mengembangkan potensi mereka tanpa membatasi hobi gamingnya. Karena bukan tidak mungkin bocah-bocah ini bisa jadi game developer yang melahirkan game-game berkualitas, atau jadi atlit e-sports yang berprestasi di event internasional. Atau jadi jurnalis game.. Sapa tau?

Dan satu yang perlu diperhatikan lagi, adalah pengkategorian game online yang tidak mendapatkan kontrol dan pengawasan. Kenapa bocah-bocah warnet ini cenderung bermain game yang seharusnya belum pantas untuk mereka.. Apakah karena gamenya ramai? Apakah karena teman-temannya juga main game yang sama? Apakah karena tidak banyak pilihan game lain yang lebih cocok untuk usia mereka?

Disini semestinya perlu ada filter tambahan untuk game-game dengan konten yang dikategorikan pada batasan umur tertentu. Yah.. agak susah sih kalo soal ini, tapi setidaknya bisa lah pake KTP atau sejenisnya.



Lalu yang terakhir, entah gimana caranya tapi gw yakin bisa adalah memperkenalkan bocah-bocah ini ke game-game lain yang sebenarnya lebih seru dan lebih cocok untuk mereka. Gw sendiri juga heran sih kenapa sekarang jarang sekali ada game-game simulasi bertema 'tycoon' - karena sesungguhnya game-game tycoon adalah game yang lebih banyak memberikan efek positif!! (catet kata-kata gw ini.)

Selain bikin roller coaster, gw juga paling suka bikin track go-kart.

Railroad Tycoon, Rollercoaster Tycoon, Transport Tycoon, Theme Hospital.. banyak banget contohnya. Kalo misalkan gw punya anak (setelah punya istrinya dulu tentu saja), bakal gw jejelin game-game bertipe ini pas dia masih bocah. Gw bakal ajarin gimana mainnya, dan gw jamin dia bakal lebih kreatif karena dia bakal dikasih sebuah ruang kosong yang bisa diisi sesuka hati dia - sambil mengasah kemampuan problem solving yang menjadi tantangan di game-game tersebut.

Teman-teman mungkin punya contoh sendiri buat game-game dengan dampak positif. Pokemon oke. Final Fantasy oke. Atau yang lainnya. Silakan sebarkan dan racuni game-game tersebut ke teman-teman kalian.



Mungkin cukup disini aja tulisan serta curhat gw. Gw masih percaya kalo bocah-bocah warnet masih lebih baik dibanding bocah-bocah tukang tawuran (kecuali ada yang 'berprofesi' sebagai keduanya), karena mereka dasarnya memang senang bermain game dan hanya perlu dibukakan pintu wawasan gaming-nya supaya lebih luas.

Dan sepertinya inilah tugas kita sebagai yang tua-tua.

Read More

On-topic: Beratnya persaingan game online di Indonesia

Selamat hari Jumat! ..dan maap karena gak ada sesuatu yang baru di blog gua kali ini. Maklum, kerjaan design lagi banyak (FYI gua disini kerja sebagai graphic designer dan juga journalist) dan gua orangnya cukup susah untuk ngebagi otak antara 'menulis' dengan 'mendesain'. Kind of that. Jadi ketika gua sedang fokus mengerjakan design, gua tinggalin dulu tulisan-tulisan gua yang ke-pending cukup banyak, diantaranya review tentang Guild Wars 2, CS:GO, dan headset Siberia Frost Blue untuk website Game8, terus artikel dari film-film baru yang gua screening, serta beberapa post untuk gaming blog ini yang gua rahasiain dulu sampe nanti.

Tapi sekarang kerjaan design gua udah pada kelar, jadi untuk beberapa saat ini gua bisa konsen menulis. Semoga bisa gua up sesuai dengan harapan gua. Well, speaking of Game8, temen gua bikin satu tulisan yang ngebahas tentang persaingan game-game online di Indonesia.

Beneran lagi hot, soalnya banyak yang tahun ini menutup servicenya. Kitsune dan ACE Online dari Winner, Mixmaster dari Kingslaim, WolfTeam dari Softnyx, Emil Chronicle Online (ECO) dari Wavegame, Samkok dari VTC, 81Keys dari OrangeGame, dan kalo ga salah ada beberapa lagi tapi gua lupa. Banyak game baru juga yang muncul dan banyak yang mati. Dan sayangnya, ada yang baru buka beberapa bulan tapi udah tutup lagi. Apa nggak rugi tuh publisher beli lisensinya?

Anyway, silakan kesini kalo mau baca artikel doi: Beratnya Persaingan Game Online Di Indonesia



Read More

Now Playing: Guild Wars 2, Mercenary Ops

Hmm, akhirnya baru bisa update blog ini sekarang. Maklum kerjaan lagi banyak, dan abis kerja langsung online GW2 (heheheh).

Kenapa gua main GW2 sedangkan gua udah bilang sebelumnya kalo gua agak males main MMORPG lagi? Karena GW2 sistem questnya sangat menarik, no subscription fee (ibarat kata cuman beli ID-nya aja), sistem exp-nya gak kayak MMORPG lain (tabel exp tiap level sama!), jadi gua bisa main nyantai tanpa harus mikir target level per hari atau sebagainya. Pengen sih nyobain WvWvW (PvP antar server) tapi nanti dulu ajalah. Gua main di Darkhaven, silakan add aja gua di yota.2584.

Gua pengen bikin review komplit tentang game ini, tapi kayanya agak lama soalnya ada kerjaan lain yang harus diprioritasin dulu..



Terus yang kedua, Mercenary Ops.. Third-person shooter yang mekanismenya sangat mirip dengan Gears Of War. Yang bikin game ini adalah Yingpei Games, yang dulunya Epic Games China, jadi gua rasa mereka sempat terlibat dalam proyek development GOW dan mempelajari semuanya lalu membuat game sendiri.. entahlah, I don't know. Yang jelas, bisa dibilang ini adalah GOW untuk PC.

Baguskah? Grafis cukup bagus kok untuk game online (apalagi dalam skala game online lokal, Mops termasuk top-notch), menggunakan senjata-senjata yang ada di dunia nyata seperti M4A1, AK47, dsb (gak kayak GOW yang fiksi), mode PvP dan PvE (Mops sedikit condong ke PvE sih menurut gua, lebih variatif.. tapi PvP-nya cukup kompetitif kok). Kalo lu bosen main game online FPS atau TPS anime, coba yang ini aja. Heheheh.



Sekarang masih CBT sih dari tanggal 1 sampai 12, tapi tanggal 14 udah Open Beta.



Read More

Tentang 'Indie Game Bundle'

Langsung ke poin utamanya aja yah (lagi ngga tau gimana nulis paragraf pembukanya, heheheh). Indie game bundle adalah sebuah promo paket yang berisi sekumpulan (biasanya minimal 4) game-game buatan developer indie, dengan harga yang murah bahkan ada yang lu bisa tentuin sendiri (pay what you want)! Setelah lu bayar, lu bakal dapet CD-Key yang bisa lu aktifin melalui Steam, Desura, atau bahkan dikasih link downloadnya langsung.

Ada yang masih punya HIB V BTA gak? Gak sempet beli gua.. Nyesel..


Indie bundle ini diadakan oleh beberapa pihak yang bekerjasama dengan developer game-game indie, yang bertujuan untuk mempromosikan game buatan mereka. Gak cuman itu, terkadang mereka juga bekerjasama dengan badan amal seperti Child's Play Charity atau AbleGamers, sehingga uang yang kita pakai untuk membeli bundle tersebut dapat disisihkan untuk beramal. Singkatnya, mendukung developer indie sekaligus menyumbang amal.

Ada cukup banyak penyedia indie bundle, diantaranya Humble Indie Bundle, Indie Gala, Indie Royale, dan Groupees (selengkapnya dapat dilihat disini.) Masing-masing punya karakteristik sendiri tentang bagaimana mereka menjalankan bundle-nya, seperti Groupees yang juga memberikan bonus album musik dari artis-artis indie, atau Indie Royale yang memberikan hadiah spesial untuk para kontributor tertinggi. Terkadang mereka juga mengadakan bundle dengan tema tertentu, misalnya khusus album musik/soundtrack atau bundle berisi game-game Android yang juga dapat dimainkan di PC.

Indie bundle ini gak selalu ada setiap saat dan berisi game-game yang sama. Indie bundle biasanya diadakan selama 2 atau 3 minggu saja setiap beberapa waktu (biasanya 1~2 bulan), dengan 'tema' dan isi bundle yang berbeda pada tiap jangka waktu tersebut. Tadi sebelumnya gua udah bilang, kalo indie bundle ini bisa lu dapatkan dengan harga yang lu tentuin sendiri. Walau begitu, karena dulu sempat ada kejadian exploit, penyedia indie bundle kini membatasi harga minimum untuk membeli bundle, yaitu sebesar 1 dolar. Dan kita pun bisa atur sendiri, mau dikemanain duit yang kita kasih ke mereka: buat para developer, badan amal, atau buat biaya maintenance server mereka. Up to you.



Lalu ada istilah beat the average (BTA) - yaitu apabila kita membeli indie bundle dengan harga di atas rata-rata (ada juga yang sudah ditentukan), kita bakal dapet bonus tambahan yang udah ditentuin dari pihak penyedia bundle. Biasanya sih, dapet game tambahan sama exclusive artwork (MP3 soundtrack, dsb). Bonus untuk BTA ini kadang gak dikasih tau dulu sama mereka, supaya bikin penasaran. Tentunya ini terserah kita, mau beli yang BTA atau nggak. Terkadang ada yang bonus BTA-nya bagus, ada yang biasa aja.



Untuk pembeliannya sendiri, kita harus menggunakan Paypal atau kartu kredit. But don't worry.. Gua dan kawan-kawan gua bisa beliin kok kalo mau. Soalnya penyedia indie bundle juga nyediain pilihan buat ngasih bundle yang kita beli ke orang lain. Nantinya link bundle yang berisi CD-Key atau link download itu bakal masuk ke email orang yang akan menerima gift dari kita. Gampang kan?

Well mungkin itu aja sih penjelasan yang bisa gua kasih. Kalo masih ada yang kurang ngerti soal indie bundle, silakan tanya ke gua. Yang jelas, indie bundle ini bener-bener worthed kalo lu pengen coba-coba belajar pake game original. Walaupun game-game indie ini  bukan game yang bakal bikin lu kebelet pengen main layaknya game buatan developer gede, tapi mereka punya keunikan tersendiri. Analoginya gampang aja, mirip perbedaan antara musik major label sama indie. Yang indie emang kurang dikenal luas, tapi musiknya punya rasa dan keunikan tersendiri yang membuat mereka punya fans tersendiri. :)

Yang mau nanya macem-macem, silakan tanya di kolom comment aja.
Read More

Kenapa gua gak lanjut main TERA.

Gua udah nungguin TERA rilis sejak bertahun-tahun yang lalu. Dan saat Enmasse buka situs pendaftaran untuk closed beta TERA, gua langsung daftar gak pake lama. Begitu tau Enmasse blok IP Indonesia, gua pindah haluan ke Frogster, server EU.

Gua nungguin agak lama untuk dapet konfirmasi bahwa gua bisa join di closed beta. Sambil liat trailernya yang keren itu. Setelah berbagai kejadian dalam hidup gua, akhirnya gua dapet email dari.. Enmasse. Tentunya gak gua tanggepin karena udah tau soal IP block itu. Barulah beberapa waktu kemudian gua dapet yang dari Frogster. Sesi closed beta kelima akan dibuka dalam beberapa hari berikutnya.

Gua nitip download pake koneksi kantor, dengan ukuran client yang mencapai 35GB itu (jadi gua butuh 70GB, untuk download -> instalasi -> delete temp file). Kalo nggak salah butuh 2 malem (siangnya gua pause, karena pasti ngeganggu koneksi yang lain). Dan akhirnya gua bisa ikut ambil bagian sekaligus mencoba rasanya bermain TERA ini.



Wow. Gua harus mengakui bahwa game ini nearly perfect, dari visual ke gameplay. Dengan spek notebook gua yang menengah ke atas, game ini bisa dijalanin mulus dengan resolusi tinggi. Mekanisme action seperti Dragon Nest, namun lebih realis. Gua mainin terus char gua selama CBT yang cuman berlangsung beberapa hari itu, nyobain beberapa tipe class dan variasi tampilan untuk tiap ras.

Gua udah mikir kalo gua harus beli yang Collector's Edition. Sayangnya waktu itu lagi akhir bulan dan duit gua udah half-spent buat ngobatin galau urusan yang lain. Dan sambil mikir-mikir lagi, apakah dengan gua beli ini gua bakal main TERA terus. Lalu dari situ gua mikir, kalo gua main ini berarti gua harus menyisihkan waktu beberapa jam tiap malam biar subscription gua gak mubazir.



Dan berdasarkan pengalaman gua, sekalinya gua seriusin satu game MMORPG, semuanya bakal keteteran.. Dan mengingat gua udah punya pekerjaan tetap sekarang, gua pikir gua gak bakal bisa lagi main serius untuk game apa aja. Bahkan jika menyisihkan waktu sedikit buat main tiap hari, gua rasa sekalinya gua serius, gua bakal ketagihan. Itu bakal berbahaya buat gua sendiri. Oke, good bye TERA.

Bukan berarti karena TERA itu jelek, malah justru gua bilang ini game bener-bener unik. Keren. Wajib coba, pasti ketagihan. Tapi, gua ngga bisa bagi waktu gua buat grinding dan juga ngurusin kerjaan. Gua udah nyerah kalo seriusin main MMO sekarang. Diablo III, yang rame sekalipun, gua gak ada minat buat mainin. Guild Wars 2? Pengennya sih cuman 'liat-liat aja', sama kayak TERA ini.

Lalu karena gua jomblo, gua harus cari pacar, bukannya main MMORPG yang isinya hampir cowo semua. Kalo MMO casual sih okelah, seenggaknya ada lumayan banyak cewenya. Kecuali gua udah punya cewe, gamer, pasti gua ajakin main MMORPG bareng. Gua bayarin langganannya kalo perlu dah. Yang penting punya..


Read More

Konspirasi dalam turnamen resmi. Hmm, jadi inget..

Barusan gua baca berita di Kotaku mengenai kompetisi LoL di MLG yang harus diakhiri dengan sebuah skandal. Team Curse dan Dignitas yang bertanding di final turnamen tersebut harus didiskualifikasi karena terlibat dalam kasus 'pengaturan skor'.

Emm, bukan pengaturan skor juga sih.. Soalnya gua ngga tau istilah yang pas-nya. Tapi intinya gini, kedua tim tersebut sebelumnya udah sepakat kalo hadiah mereka berdua akan dibagi rata, ga peduli siapa yang juara 1 atau 2. Dan saat pertandingan final berlangsung, mereka gak bermain sebagaimana mestinya sebuah final; dengan ketegangan intens serta strategi yang tersusun rapi; mereka malah main ARAM. All random, all mid.

Sedangkan di MLG sendiri udah ada aturan yang ngejelasin kalo para peserta dilarang "melakukan konspirasi untuk mengatur ranking atau bracket." Dan akibatnya, titel juara mereka dicopot dan hadiah mereka berdua pun dibatalkan. Sedangkan juara 3 dan 4 nya tetep dapet hadiah mereka. (harusnya dijadiin juara 1 sama 2 aja kali ya?)

Gua jadi inget dong waktu dulu jadi spesialis pemburu hadiah di turnamen Ayodance (ciee). Dulu gua sama temen-temen gua juga pernah 'maennya begini'. Terserah yang mau ambil juara 1 siapa, yang penting hadiah dibagi rata. Dan panitia sono juga gak bikin peraturan soal ini, jadi ya kami nyantai-nyantai aja.

"Sama-sama temen ini kan? Ga perlu bersaing terlalu ketat lah." 

Kita bertiga temenan deket, dan sama-sama juara. But we showed our true skills.



Kalo dipikir-pikir sih, itu agak ngerusak sportivitas dari sebuah kompetisi ya. Sama kayak kasus calciopoli atau calcioscommesse-nya Serie A, atau kasus badminton di Olimpiade baru-baru kemarin. Seharusnya para peserta, terlepas dari apakah mereka saling berteman atau bersaudara, bisa tetap bertanding secara sehat dengan mengeluarkan segenap kemampuan mereka untuk jadi yang terbaik, karena itu adalah "the spirit of competition". 

Tapi kalo nggak ada di peraturan, sah-sah aja kan ya? Nah lho..

Gua sih antara mendukung dan tidak mendukung kedua tim tersebut dalam kasus di atas. Gua rasa sih gak apa-apa kalo mereka mau split the prize. Tapi menurut gua, kesalahan mereka adalah di ARAM. Gak sepantasnya match ala public itu ditampilin di pertandingan final sebuah kompetisi besar. Walaupun mereka adalah teman sejati di kehidupan nyata, mereka seharusnya tetap bertanding sepenuh tenaga dalam kompetisi. Karena kompetisi juga menjadi hiburan bagi para penontonnya, dan karena gelar juara lebih berharga dari hadiah sebesar apapun.

Tentunya bakal lebih enak dan bangga dong, kalo kita bilang 'eh, gua juara 1 lho' daripada 'eh, gua dapet mobil blablabla lho'.

Gimana pendapat lu orang soal 'pengaturan skor' kayak gini?




Read More
Powered by Blogger.